DEMOCRAZY.ID – Kemiskinan menjadi salah satu masalah global yang masih menjadi perhatian serius. Dampaknya tidak hanya menciptakan ketimpangan sosial, tetapi juga menurunkan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Ada begitu banyak negara yang masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem dengan rata-rata pendapatan masyarakat di bawah US$3,00 atau Rp51.490 per hari.
Ironisnya, rata-rata negara yang masuk ke dalam daftar tersebut sebenarnya memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi tidak mampu mengistribusikan kekayaannya untuk kesejahteraan masyarakatnya.
Sejak tahun 1990, Bank Dunia secara konsisten memantau dan merilis estimasi jumlah penduduk dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Laporan ini menjadi acuan bagi organisasi internasional maupun pemerintah dalam menyusun kebijakan serta program pengentasan kemiskinan yang lebih baik.
Berdasarkan data terbaru, Bank Dunia memperbarui garis kemiskinan global berdasarkan Purchasing Power Parities (PPP) atau Paritas Daya Beli terbaru yang dirilis oleh International Comparison Program (ICP).
Dalam laporan tersebut, ditetapkan bahwa garis kemiskinan internasional kini berada di angka US$3,00 per orang per hari, menggantikan standar sebelumnya sebesar US$2,15 yang berdasarkan PPP tahun 2017.
Mengutip dari Our World in Data, berikut adalah sepuluh negara yang masuk di bawah garis kemiskinan ekstrem dengan rata-rata penghasilan masyarakat di bawah US$3,00 per orang per hari:
Seharusnya Republik Demokratik Kongo bisa menjadi negara yang kaya karena memiliki sumber daya yang melimpah, khususnya kobalt yang menjadi bahan utama dalam pembuatan baterai Hp dan mobil listrik.
Sayang, karena masalah korupsi dan pertambangan ilegal, hasil pengerukan sumber daya alam miliknya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Tingkat pengangguran terhitung rendah, sekitar 4,5 persen. Tetapi lebih dari 90 persen warganya bekerja di sektor informal dengan gaji rata-rata sebesar US$40 (Rp686 ribu) per bulan.
Mozambik adalah salah satu negara di Afrika yang punya sumber daya alam yang melimpah, seperti cadangan mineral hingga lahan pertanian yang subur.
Sayangnya, sebanyak 96 persen tenaga kerjanya bekerja di sektor informal tanpa adanya kontrak dan jaminan kesehatan.
Sementara industri manufakturnya sangat lemah karena minimnya industri pengolahan. Akibatnya, tidak ada penciptaan lapangan kerja formal berskala besar.
Persentase kemiskinan di Republik Afrika Tengah mencapai 71,62 persen, padahal mereka memiliki sumber daya alam yang berlimpah, khususnya berlian, emas, uranium, dan kayu hutan tropis.
Sayangnya, kemiskinan ekstrem ini disebabkan karena tambang berlian dan emas yang ada di negaranya dikuasai oleh kelompok pemberontak atau perusahaan asing.
Hasil tambangnya diekspor secara ilegal sehingga pemerintah tidak mendapatkan pajak dan rakyat tidak mendapatkan lapangan kerja formal yang layak.
Madagaskar adalah salah satu negara yang kaya secara hayati, tetapi kekayaan alamnya sulit dimanfaatkan untuk mensejahterakan masyarakatnya.
Sekitar 80 persen penduduknya bekerja di pertanian, namun rata-rata hanya lah petani subsistem atau menanam hanya untuk dimakan sendiri.
Di sisi lain, dunia ingin melindungi hutan hujan Madagaskar, sehingga warga Madagaskar kesulitan untuk mencari penghidupan yang lain, mengingat industri manufakturnya sangat minim.
Nigeria adalah salah satu produsen minyak terbesar di Afrika, namun, hasil kekayaannya tidak dirasakan oleh rakyat karena korupsi dan kepentingan pejabat.
Sebagian besar penduduknya bertahan hidup dengan bekerja di sektor informal tanpa kepastian pendapatan.
Bagaimana dengan Posisi Indonesia?
Berdasarkan data yang sama, tingkat kemiskinan di Indonesia adalah 4,04% pada 2026.
Dengan estimasi jumlah populasi Indonesia sebanyak 287,1 juta jiwa, maka jumlah orang yang menerima gaji di bawah US$3,00 per hari berkisar sebanyak 11,6 juta jiwa.
Namun, data kemiskinan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hasil yang berbeda.
Per Maret 2025, BPS menyebut ada sebanyak 2,38 juta orang atau sekitar 0,85 persen dari total populasi, masuk dalam kategori penduduk miskin ekstrem di Indonesia.
Terlepas dari dua perbedaan data tersebut, masalah kemiskinan harus segera diperbaiki agar seluruh masyarakat bisa mendapatkan hidup yang lebih baik.
Sumber: Inilah