DEMOCRAZY.ID – Indonesia kembali digegerkan oleh pernyataan panas Menteri Investasi Bahlil Lahadalia yang mendadak viral dan memantik reaksi publik secara masif.
Di tengah kelangkaan BBM yang membuat banyak SPBU swasta megap-megap, Bahlil justru melontarkan sindiran ekstrem yang membuat suasana nasional tambah panas.
Dalam acara BIG Conference 2025 di Kuningan, Jakarta, Senin (8/12/2025), Bahlil menyampaikan sindiran yang langsung jadi pusat kontroversi.
Ia menyebut ada SPBU swasta yang enggan membeli pasokan BBM karena alasan harga, hingga akhirnya membuat pom bensin kosong dan justru beralih menjual kopi atau jasa lain.
Namun kalimat lanjutan Bahlil-lah yang membuat publik terperangah.
“Kemarin ada swasta enggak mau beli minyak seolah-olah nanti apa namanya, pompa bensinnya udah enggak ada, nanti jual tukang picit (pijat), jual es,” kata Bahlil.
“Ya udah kau bikin aja tukang picit sampai kau mati di situ tukang picit. Apa urusannya sama goa?” lanjut Bahlil.
Ucapan itu langsung meledakkan ruang diskusi publik.
Tone-nya yang keras, ditambah situasi lapangan yang memang sedang genting, membuat pernyataan ini dipandang sebagai bentuk kemarahan yang tak biasa.
Video di Akhir Artikel
Bahkan dinilai tak sensitif di tengah ribuan pekerja SPBU yang menghadapi ancaman pemangkasan jam kerja hingga potensi PHK.
Faktanya, beberapa minggu terakhir sejumlah SPBU swasta terutama yang mengandalkan impor BBM non-subsidi memang mengalami krisis stok.
Laporan dari sejumlah media nasional menunjukkan pekerja SPBU terpaksa berjualan kopi hingga oli demi tetap bertahan.
Situasi ini dipicu pembatasan impor BBM yang membuat swasta tak mampu mendapatkan pasokan stabil, sementara margin penjualan dari Pertamina dinilai tak menguntungkan.
Kondisi inilah yang membuat reaksi publik terhadap ucapan Bahlil menguat.
Banyak yang menilai pemerintah seharusnya memberi solusi distribusi BBM, bukan malah melontarkan sindiran yang dianggap meremehkan usaha swasta di tengah kondisi sulit.
Namun ada juga yang menilai Bahlil sedang mengirim pesan keras jangan sampai SPBU swasta “mengancam”.
Pemerintah dengan menghentikan pembelian BBM demi memicu tekanan kebijakan.
Bagi pihak yang pro, Bahlil dianggap sekadar ingin menegaskan posisi bahwa negara tidak boleh ditekan oleh kepentingan korporasi.
Tetap saja, realitas di lapangan menunjukkan situasi sudah terlalu panas.
Pengamat energi dari berbagai institusi menilai pernyataan Bahlil berpotensi memperburuk hubungan pemerintah
Swasta di sektor migas, terlebih ketika data menunjukkan lebih dari 300 SPBU swasta terancam tutup jika pasokan BBM tak diperbaiki dalam waktu dekat.
Di sisi lain, pekerja di lapangan mengaku bingung sekaligus frustasi.
Mereka berada di tengah pusaran krisis: stok kosong, jam kerja berkurang, penghasilan menurun, sementara tekanan publik terhadap SPBU meningkat.
Bagi pekerja, sindiran “jadi tukang picit sampai mati” terasa menohok, karena mereka justru sedang berjuang bertahan hidup.
Hingga kini, pernyataan Bahlil terus menjadi viral di media sosial.
dengan kalimat “Apa urusannya sama gua?” tersebar luas dan menimbulkan beragam respons
Dari satir, kemarahan, hingga kritik serius terhadap gaya komunikasi pejabat publik.
Satu hal yang jelas isu ini belum selesai. Krisis BBM masih berlangsung.
SPBU swasta masih terseok, sementara publik menunggu.
Apakah pemerintah akan meredam gejolak atau justru memunculkannya kembali dengan pernyataan-pernyataan berikutnya.
[VIDEO]
Bahlil: “Kemarin ada swasta enggak mau beli minyak seolah-olah nanti apa namanya, pompa bensinnya udah enggak ada, nanti jual tukang picit, jual es, ya udah kau bikin aja tukang picit sampai kau mati situ tukang picit. Apa urusannya sama Gua?” https://t.co/ChBQoicsmv pic.twitter.com/LiyccJkO7I
— Jejak digital. (@ARSIPAJA) December 9, 2025
Sumber: PojokSatu