

DEMOCRAZY.ID – Dunia sepak bola kembali diguncang oleh keputusan kontroversial yang memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar, analis, hingga mantan wasit profesional.
Sebuah momen yang digadang-gadang sebagai calon “gol terindah sepanjang masa” yang dicetak oleh Mesir ke gawang Argentina, harus berakhir dengan kekecewaan mendalam setelah dianulir oleh teknologi Video Assistant Referee (VAR).
Dalam laga yang berlangsung dengan intensitas tinggi, Mesir yang saat itu sudah unggul 1-0 atas Argentina, berhasil mencetak gol kedua yang spektakuler melalui kaki Mostafa Zico.
Gol tersebut tercipta melalui skema serangan balik kilat yang estetik, sebuah gol yang hampir dipastikan akan masuk dalam buku sejarah sebagai salah satu gol terbaik yang pernah tercipta di panggung internasional.
Namun, kegembiraan publik Mesir seketika berubah menjadi ketidakpercayaan.
VAR melakukan intervensi dan memutuskan untuk membatalkan gol tersebut.
Alasannya? Gelandang Mesir, Marwan Attia, dianggap melakukan pelanggaran ringan—yakni menginjak kaki bek Argentina, Lisandro Martínez—di area pertahanan Mesir, jauh sebelum proses gol dimulai.
👇👇
Gol seindah begini bisa dibatalkan wasit. Ajg emang wasit dan FIFA! pic.twitter.com/yiFdbRCtC0
Baca Juga— Melon Mask (@panca66) July 7, 2026
Keputusan pembatalan ini menuai kecaman luas karena dianggap melanggar semangat permainan dan protokol penggunaan VAR yang seharusnya.
Berikut adalah poin-poin utama yang memicu kemarahan publik sepak bola:
👇👇
The most beautiful goal in football history was disallowed in an unfair way. pic.twitter.com/cORKhJclCY
— China pulse 🇨🇳 (@Eng_china5) July 8, 2026
Insiden ini kembali membuka luka lama terkait penggunaan teknologi di sepak bola.
Banyak pihak kini mempertanyakan efektivitas VAR yang justru dianggap “merampok” keindahan permainan karena terlalu terpaku pada detail teknis yang tidak memberikan dampak langsung terhadap jalannya gol.
Bagi pendukung Mesir dan penikmat sepak bola yang menjunjung tinggi keindahan permainan, gol Mostafa Zico tetaplah gol yang sah dan spektakuler.
Namun, di mata FIFA dan protokol yang berlaku, sejarah harus ditulis ulang dengan catatan: sebuah karya seni sepak bola yang hilang karena keputusan yang dianggap oleh banyak pihak sebagai sebuah ketidakadilan.