Rocky Gerung: 70 Persen Menteri Gak Paham Prabowo, Terutama Purbaya dan Bahlil!

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik senior Rocky Gerung kembali melontarkan kritik pedas.

Kali ini, sasarannya adalah para menteri Kabinet Prabowo Subianto. Menurutnya, mayoritas pembantu presiden itu buta arah.

Bahkan, Rocky menyebut Presiden Prabowo sebenarnya punya visi besar menjadi pemimpin sosialis se-Asia.

Namun, niat luhur itu kandas karena anak buahnya sendiri tidak paham bahasa sang bos.

“Prabowonomik itu adalah jalan Presiden Prabowo untuk menjadi pemimpin sosialis bukan hanya di Indonesia, tapi di Asia,” ujar Rocky dalam diskusi di kanal YouTube Total Politik beberapa waktu lalu.

“Tapi masalahnya, 70 persen menteri kabinetnya Pak Prabowo enggak paham Prabowo. Dari 70 persen itu, yang paling enggak paham adalah Purbaya,” tegasnya dengan nada kesal.

Rocky menyoroti kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya, Purbaya hanya paham statistik dan angka, tetapi gagal menangkap visi besar redistribusi ekonomi ala Prabowo.

“Purbaya cuma ngerti tentang statistik. Dia enggak paham apa yang diinginkan Prabowo. Tetapi dia mesti seolah-olah paham karena dia adalah aparatnya Prabowo,” sindirnya.

Rocky juga menyebut nama Bahlil Lahadalia sebagai menteri paling ‘bego’ kedua.

“Bahlil yang paling bodoh. Bahasa tubuhnya sudah menjelaskan, dia cuma ingin menjilat. Dia tidak paham tentang keadilan sosial (social justice),” tegasnya.

Padahal, lanjut Rocky, Presiden Prabowo adalah produk dari subkultur ISI (Ikatan Sarjana Indonesia) ala alm. Prof. Sumitro Djojohadikusumo yang mengajarkan budaya debat egaliter.

“Seharusnya menteri itu basis pikirannya menguji pikiran Prabowo. Sementara ini, mereka berupaya menafsirkan karena takut bertanya pada Prabowo. Jadi tanpa diskusi, mereka tafsirkan sendiri,” ujar Rocky.

Rocky menjelaskan, Prabowo sebenarnya haus akan debat intelektual. Sayangnya, tidak ada satu pun menteri yang berani ‘bertengkar pikiran’ dengan presiden.

“Presiden Prabowo juga ingin pikirannya diuji. Masalahnya, sparing partner-nya bego semua. Enggak ada yang berani bertengkar dengan Presiden Prabowo,” kelakarnya.

Akibatnya, Prabowo sering bicara hingga 7 jam nonstop dalam rapat. “Karena enggak ada yang bisa stop dia di menit ke-52 untuk bertengkar.

Enggak berani atau enggak mampu otaknya,” tambah Rocky.

Satu-satunya yang dianggap Rocky paham adalah Wakil Menteri Veronica Tan, yang disebutnya memahami ekonomi berbasis gender dan ethics of care.

“Veronika Tan berupaya mengingatkan Presiden bahwa growth bisa dihasilkan oleh tangan-tangan perempuan. Tapi kenapa statusnya cuma wakil menteri? Harusnya dia Menko,” ujar Rocky.

Ancaman “Revolusi Melon”

Selain mengkritik kabinet, Rocky juga memperingatkan potensi ledakan sosial akibat merosotnya daya beli kelas menengah.

“Menyusutnya kelas menengah berkorelasi dengan potensi social unrest. Kalau terjadi, mak-mak yang pertama kali menuntut Presiden turun karena enggak mampu menjamin dapur mereka. Namanya Revolusi Melon,” kata Rocky menirukan riset ekonom Dedi Basri.

Rocky menyebut, Presiden Prabowo saat ini seperti berada di menara gading.

Ia memilih jalan “sosialis populis” yang berbahaya, dengan kebijakan perampasan aset ala Robin Hood tanpa proses hukum yang jelas.

“Presiden ingin jadi sosialis, tapi tikungannya berbahaya. Hostile take over bisa memicu capital outflow. Pengusaha kabur, lalu terjadi kerusuhan etnis seperti 98,” pungkasnya.

“Enggak ada objektivitas dalam hal ini. Saya bias karena saya sakit hati pada kebijakan dungu, bukan pada manusianya,” tutup Rocky.

Apakah kritik ini akan didengar Istana? Atau hanya jadi konsumsi publik semata? Kita tunggu.

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya