Prabowo Sibuk Benahi Ekonomi, Jokowi Malah Bermanuver Muluskan Gibran Menuju 2029!

DEMOCRAZY.ID – Rentetan manuver politik yang belakangan ini ditunjukkan oleh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai memantik kritik dari kalangan pengamat politik.

Langkah Jokowi yang gencar melakukan safari ke berbagai daerah dan menggaungkan wacana duet Prabowo-Gibran dua periode dinilai kurang tepat secara momentum dan etika politik.

Direktur Eksekutif Indonesian Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai bahwa aktivitas politik tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Jokowi untuk memuluskan jalan politik putranya, Gibran Rakabuming Raka, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029.

“Secara etika tidak tepat wacana (dua periode) tersebut dihembuskan di saat-saat ini. Di mana Presiden Prabowo Subianto sedang fokus dan bekerja keras menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang sangat tidak pasti,” ujar Iwan saat memberikan keterangan di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Tantangan Ekonomi Global yang Menyita Energi Pemerintah

Menurut Iwan, fokus utama jajaran pemerintahan saat ini seharusnya diarahkan sepenuhnya pada pemulihan dan penguatan domestik.

Presiden Prabowo Subianto dinilai tengah menghadapi sederet tantangan makroekonomi yang membutuhkan stabilitas politik nasional yang solid.

Beberapa fokus krusial yang sedang dihadapi pemerintah saat ini antara lain:

  • Stabilitas Fiskal: Upaya keras menguatkan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS.
  • Ketahanan Nasional: Menjaga stabilitas sektor energi dan pangan di tengah gejolak kenaikan harga minyak dunia.
  • Reformasi Birokrasi: Langkah agresif pemberantasan korupsi serta pembenahan tata kelola Sumber Daya Alam (SDA).
  • Program Strategis: Pengawalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyita perhatian besar dari Presiden Prabowo.

Melihat beratnya beban kerja tersebut, Iwan menyarankan agar Jokowi mengambil peran sebagai mentor bangsa ketimbang ikut terseret dalam riuh politik praktis.

“Sebaiknya, di saat seperti ini Jokowi menyumbangkan pemikiran dan gagasan untuk membantu Prabowo Subianto, menjaga dan mengelola negara agar tetap stabil, rakyatnya tetap bisa merasakan program-program yang langsung menyentuh kebutuhan mereka,” tuturnya.

Dikritik Abai Negarawan demi Kepentingan Golongan

Iwan menyayangkan sikap mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta tersebut yang terkesan lebih memprioritaskan konsolidasi kekuasaan daripada stabilitas koalisi.

Pergerakan Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke daerah-daerah dipandang berpotensi memicu resistensi di internal pendukung pemerintah.

“Rencana Jokowi juga melakukan safari ke daerah-daerah bersama PSI merupakan upaya curi start, dan bisa menimbulkan negative thinking dari kekuasaan dan partai-partai politik koalisi pemerintah,” jelas Iwan.

Kalkulasi Realistis Mengamankan Gibran di Pilpres 2029

Kendati mengkritik dari sisi etika, IPR menilai pernyataan Jokowi yang mendorong narasi “Prabowo-Gibran Dua Periode” adalah buah dari kalkulasi politik yang sangat realistis.

Jokowi disinyalir sadar betul bahwa menghadapkan Gibran secara langsung sebagai rival Prabowo di Pilpres 2029 adalah langkah yang mustahil.

Apalagi, posisi politik Prabowo saat ini berada di atas angin, ditopang oleh tingginya tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja pemerintah.

Sebagai figur yang pernah memimpin Indonesia selama satu dekade, Jokowi dinilai paham betul bagaimana besarnya pengaruh instrumen kekuasaan dalam memenangkan sebuah kontestasi.

“Jokowi kan pernah merasakan sebagai presiden dua periode. Di mana, faktor kekuasaan dan penguasa itu sangat menentukan dalam setiap kontestasi politik apapun,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Iwan menyimpulkan bahwa target paling rasional bagi Jokowi saat ini ada dua: memastikan PSI berhasil menembus ambang batas parlemen (parliamentary threshold) pada pemilu mendatang, dan mengunci posisi Gibran Rakabuming Raka agar tetap mendampingi Prabowo Subianto pada periode kedua.

Artikel terkait lainnya