Reshuffle kabinet tanggal 27/04 adalah istilah yang terlanjur masuk di media sosial, menjadi topik umum yang dikenal masyarakat luas.
Sebagian pengamat yang agak risau dengan kejadian tersebut memberikan opininya bahwa “ada hal menarik terjadi hari ini di Istana saat pelantikan 6 (enam) orang pejabat 1 (orang) sebagai menteri, 1 (orang) Wakil Menteri dan 1 (orang) sebagai penasehat khusus Presiden lainnya sebagai Kepala Badan setara menteri”
Berikut daftar pejabat menteri, Wakil Menteri dan pejabat setingkat menteri yang dilantik Presiden :
– Jumhur Hidayat menjadi Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
– Hanif Faisol menjadi Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan
– Dudung Abdurachman menjadi Kepala Staf Kepresidenan
– Muhammad Qodari menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah
– Hasan Nasbi menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi .
– Abdul Kadir Karding menjadi Kepala Badan Karantina Indonesia.
Dalam rekam jejak politiknya munculah opini, yang menandai 4 (orang) adalah politisi pro Jokowi:
4 (orang) orang indikasi kuat Jokower tulen, yaitu Jendral TNI (Purn) Dudung (Kepala KSP), M. Qodari (Kepala BKP), dan Hasan Nasbi (Penasehat Khusus Presiden) dan Abdul Kadir Karding.
Mohammad Jumhur Hidayat dilantik menjadi Menteri Lingkungan Hidup.
Jumhur dikenal konsisten sangat kritis terhadap rezim Jokowi dan sempat dipenjara selama setahun oleh rezim Jokowi.
Ada 2 (dua) hal menarik dari kejadian tersebut :
1. Bahwa Presiden Prabowo sepertinya memberikan kepercayaan penuh kepada Jokower untuk mengendalikan komunikasi dan pengelolaan pemerintahan Prabowo, mulai dari Seskab, KSP, dan komunikasi Pemerintah. Artinya wajah pemerintahan Prabowo adalah wajah Jokowi.
2. Pelantikan Mohammad Jumhur Hidayat terpantau diundangnya Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan ke Istana apakah ini simbol bahwa Prabowo mulai mangakomodir oposisi anti Jokowi dalam pemerintahannya atau sekedar “pemanis” dari kebijakan menyerahkan pengelolaan hari-hari pemerintahan Prabowo ke Jokower.
Kritik masyarakat luas yang selama ini dianggap sebagai trouble Kabinet Merah Putih, dianggap mengganggu kerja Presiden adalah karena adanya 4 (empat) orang Jokower 24 karat (Seskab, KSP, BKP, dan penasehat khusus) dipercaya oleh Presiden Prabowo untuk mengelola informasi sehari-hari rezim Prabowo, maka publik layak menduga bahwa rezim Prabowo adalah rezim Jokowi tiga priode.
Opini tersebut bisa saja bernuansa subjektif tapi itulah sebagian opini yang muncul setelah pelantikan 6 (enam) pejabat, karena harapan masyarakat Presiden Prabowo akan membersihkan para pembantunya pro Jokowi yang berpotensi selalu menelikung kebijakan Presiden, justru yang terjadi Kabinet Merah Putih nuansanya semakin memperkuat Kabinet Pro Jokowi (Jokowi Tiga Periode). ***