NYALI BAJA! Detik-detik Presiden PFA Permalukan Israel di Depan Dunia: Tolak Salaman dan Bongkar Alasan Menohok

DEMOCRAZY.ID – Dunia maya mendadak gempar. Sebuah cuplikan video dari panggung Kongres FIFA 2026 di Vancouver, Kanada, menjadi perbincangan panas setelah memperlihatkan ketegangan nyata di atas panggung tertinggi sepak bola dunia.

Jibril Rajoub, Presiden Federasi Sepak Bola Palestina (PFA), secara mengejutkan menunjukkan sikap yang membuat seisi ruangan terdiam: ia menolak menjabat tangan perwakilan Israel di hadapan mata dunia.

Momen ini bermula saat Presiden FIFA, Gianni Infantino, mencoba memfasilitasi pertemuan dan meminta kedua belah pihak bersalaman sebagai simbol sportivitas olahraga.

Namun, Rajoub tetap bergeming. Ia memilih untuk menjaga jarak dan menolak uluran tangan Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA), Basim Sheikh Suliman.

Sebuah gestur dingin yang langsung memicu gelombang reaksi dari netizen global.

👇👇

“Bukan Sekadar Protokol, Ini Tentang Nurani”

Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mendasari keberanian Jibril Rajoub melakukan aksi tersebut di depan pimpinan tertinggi FIFA?

Dalam penjelasan resminya, Rajoub membongkar motif di balik gestur yang dianggap banyak pihak sebagai “tamparan keras” bagi diplomasi olahraga tersebut.

Bagi Rajoub, jabat tangan bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sebuah pernyataan moral yang mendalam.

“Penolakan untuk berjabat tangan bukanlah tindakan protokoler biasa, tetapi posisi yang mencerminkan keyakinan bahwa normalisasi olahraga dengan mereka yang membenarkan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun.”

Ia menegaskan bahwa melakukan “Normalisasi Palsu” di atas lapangan hijau, sementara infrastruktur olahraga di negaranya hancur dan para atlet kehilangan nyawa, adalah sebuah pengkhianatan terhadap rasa kemanusiaan.

Menelanjangi “Standar Ganda” FIFA

Tidak berhenti di situ, Rajoub juga menggunakan podium internasional tersebut untuk melayangkan kritik pedas terhadap FIFA.

Ia merasa ada ketidakadilan yang nyata dan “pilih kasih” dalam penerapan sanksi serta aturan internasional oleh badan sepak bola dunia tersebut.

“Tidak mungkin ada standar ketat dalam isu internasional lainnya, namun standar itu mendadak berbeda ketika menyangkut Palestina.

Kami tidak meminta perlakuan khusus, kami hanya meminta hukum diterapkan secara adil tanpa pengecualian bagi siapa pun,” tegasnya dengan nada yang tak goyah.

Simbol Perlawanan Baru

Aksi viral ini kini menjadi simbol baru perlawanan melalui soft power.

Bagi para pendukungnya, apa yang dilakukan Rajoub adalah pengingat bahwa olahraga tidak pernah bisa benar-benar dipisahkan dari hati nurani.

Saat ini, pergeseran suasana internasional mulai terasa, di mana suara-suara yang menuntut keadilan bagi Palestina di lingkaran olahraga global disebut-sebut mulai menguat.

Video penolakan salaman ini telah ditonton jutaan kali dan terus memicu diskusi hangat.

Apakah FIFA akan tetap diam, ataukah aksi berani Rajoub ini akan menjadi titik balik bagi kebijakan sepak bola internasional di masa depan?

Sumber: Akurat

Artikel terkait lainnya