Masya Allah! Presiden Iran Saat Ini Ternyata Juga Spesialis Bedah Jantung

DEMOCRAZY.ID – Di tengah hiruk-pikuk politik Timur Tengah yang selalu panas, muncul sosok yang cukup unik memimpin Republik Islam Iran.

Presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian (atau Masud Pezeshkian), bukan hanya seorang politisi reformis, tetapi juga seorang dokter spesialis bedah jantung yang berpengalaman.

Subhanallah, jarang sekali seorang pemimpin negara memiliki latar belakang medis yang begitu kuat, apalagi di bidang yang sangat vital seperti bedah jantung.

Masoud Pezeshkian lahir pada 29 September 1954 di Mahabad, Provinsi Azerbaijan Barat, Iran. Ia berasal dari keluarga campuran Azerbaijan dan Kurdi.

Pendidikannya di bidang kedokteran dimulai di Universitas Kedokteran Tabriz. Setelah lulus, ia tidak langsung menikmati karir nyaman sebagai dokter.

👇👇

Saat Perang Iran-Irak (1980–1988) meletus, Pezeshkian turun langsung ke garis depan sebagai dokter sekaligus pejuang.

Ia bertanggung jawab mengirim tim medis ke medan perang dan ikut merawat tentara yang terluka.

Banyak sumber menyebutnya bertugas sebagai “fighter and doctor” di bawah naungan pasukan yang terkait Garda Revolusi Islam (IRGC), meski karir utamanya tetap di dunia kedokteran, bukan militer profesional.

Setelah perang usai, Pezeshkian melanjutkan pendidikan spesialisasinya.

Ia menyelesaikan spesialisasi bedah umum di Tabriz University of Medical Sciences, kemudian memperoleh subspesialisasi bedah jantung (cardiac surgery) dari Iran University of Medical Sciences pada tahun 1993.

Ia kemudian menjadi ahli bedah jantung yang dihormati, bahkan sempat menjabat sebagai kepala Rumah Sakit Shahid Madani di Tabriz dan Rektor Universitas Kedokteran Tabriz (1994–1999).

Karir politiknya dimulai sebagai Menteri Kesehatan pada era Presiden Mohammad Khatami (2001–2005).

Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, berintegritas tinggi, dan vokal mengkritik kebijakan pemerintah ketika dianggap melanggar hak asasi atau terlalu keras.

Tragedi pribadi juga membentuk karakternya: pada 1994, istrinya dan salah seorang anaknya meninggal dalam kecelakaan mobil, membuatnya semakin dekat dengan rakyat biasa yang menderita.

Pada Juli 2024, Pezeshkian terpilih sebagai Presiden Iran ke-9 dalam pemilu darurat setelah wafatnya Presiden Ebrahim Raisi.

Ia menang dengan platform reformasi politik, sosial, dan ekonomi, serta upaya meredakan ketegangan dengan Barat.

Hingga April 2026, ia masih menjabat meski situasi geopolitik Iran sangat dinamis pasca peristiwa terkait Pemimpin Tertinggi.

Apa yang membuat latar belakangnya menarik? Sebagai spesialis bedah jantung, Pezeshkian memahami betul arti kehidupan dan kematian.

Bedah jantung adalah salah satu bidang kedokteran paling rumit yang menuntut ketelitian, kesabaran, dan keberanian mengambil keputusan dalam hitungan detik.

Kualitas itu ia bawa ke dunia politik: pendekatan yang lebih pragmatis dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Di tengah sanksi ekonomi, ketegangan regional, dan tantangan internal, sosok “Dokter Presiden” ini sering disebut sebagai harapan bagi mereka yang menginginkan Iran lebih terbuka tanpa meninggalkan prinsip-prinsip revolusi Islam.

Ia tetap loyal pada sistem, tetapi dikenal lebih moderat dibandingkan pendahulunya.

Masya Allah, Allah SWT memberikan karunia ilmu yang luas kepada hamba-Nya.

Dari meja operasi ruang bedah jantung hingga kursi kepresidenan, perjalanan Masoud Pezeshkian mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pengabdian dan pengetahuan mendalam.

Semoga kepemimpinannya membawa kebaikan bagi rakyat Iran dan kestabilan di kawasan.

Artikel terkait lainnya