Konspirasi Berdarah Terbongkar! Mantan Pejabat AS Akui Perang Iran Hanya Akal Bulus Demi Wujudkan Ambisi Gila ‘Israel Raya’!

DEMOCRAZY.ID – Seorang mantan pejabat Amerika Serikat mengungkap klaim kontroversial terkait latar belakang konflik antara AS dan Iran yang saat ini memanas.

Ia menilai perang tersebut tidak lepas dari kepentingan strategis Israel di kawasan Timur Tengah.

Mantan pejabat itu adalah Paul Craig Roberts, yang pernah menjabat pada era Presiden Ronald Reagan.

Dalam pernyataannya, Roberts menyebut konflik dengan Iran tidak bisa dipahami secara terpisah dari agenda yang lebih luas.

Ia mengatakan, perang di Timur Tengah, khususnya terhadap Iran, berkaitan erat dengan apa yang ia sebut sebagai proyek “Israel Raya”.

“Perang di Timur Tengah, khususnya perang melawan Iran, tidak dapat dipahami secara terpisah dari apa yang ia gambarkan sebagai ‘agenda yang lebih luas yang terkait dengan proyek Israel Raya’,” ujarnya dalam sebuah podcast politik, sebagai mana dimuat Middle East Monitor (MEMO), Rabu (29/4/2026).

Menurut Roberts, isu tersebut jarang dibahas secara terbuka oleh negara-negara di kawasan, termasuk Iran dan dunia Islam secara umum, meskipun dianggap sebagai faktor kunci di balik konflik yang terjadi.

Mengutip laporan Middle East Monitor, Roberts juga menilai Israel berhasil mendorong Presiden Donald Trump untuk mengambil langkah konfrontatif terhadap Iran.

“Fakta itu sesuatu yang gagal dicapai dengan presiden AS sebelumnya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri AS, khususnya dalam isu sensitif Timur Tengah, semakin terlihat dalam dinamika konflik saat ini.

Bahkan, menurutnya, sebagian besar perang yang terjadi di kawasan pada abad ke-21 memiliki keterkaitan dengan konsep tersebut.

Selain aspek geopolitik, Roberts juga menyoroti dampak luas konflik tersebut terhadap ekonomi global.

Ia menilai perang tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga memengaruhi stabilitas energi dan pasar internasional.

Pernyataan ini menambah panjang daftar pandangan kritis terhadap keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik Timur Tengah, di tengah meningkatnya ketegangan dan belum adanya tanda-tanda penyelesaian dalam waktu dekat.

Sumber: Akurat

Artikel terkait lainnya