Jokowi Ngaku Orang Kampung ke JK, Ini Tafsirannya Menurut Pengamat Komunikasi Politik

DEMOCRAZY.ID – Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menyoroti pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi yang menyebut dirinya bukan siapa-siapa dan hanya orang kampung.

Jokowi mengatakan itu sebagai respons terhadap pernyataan Jusuf Kalla (JK).

Jamiluddin mengatakan pernyataan itu mengandung multitafsir, mulai dari bentuk kerendahan hati hingga sebuah sentilan politik terhadap pihak-pihak yang mengklaim peran besar atas kariernya.

“Jawaban Joko Widodo (Jokowi) dirinya bukan siapa-siapa, hanya orang kampung, bisa memberi multi tafsir,” ujar Jamiluddin kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Jamiluddin, secara tersirat Jokowi sebenarnya menyadari adanya andil besar Jusuf Kalla (JK) dalam perjalanan politiknya hingga menjadi presiden.

Pengakuan sebagai orang biasa menunjukkan bahwa ia tidak mungkin mencapai posisi tersebut sendirian.

“Mengaku sebagai orang bukan siapa-siapa, hanya orang kampung, mengindikasikan Jokowi bisa menjadi presiden karena bantuan orang lain,” jelasnya.

Namun, Jamiluddin mencatat bahwa Jokowi cenderung menghindari pengakuan tersebut secara gamblang.

Hal ini dinilai wajar dalam budaya komunikasi tertentu di Indonesia.

“Hanya saja Jokowi tak mau mengakui hal itu secara direct, khususnya dari JK. Hal demikian umum terjadi di masyarakat yang menganut budaya konsteks rendah,” tambah Jamiluddin.

Lebih lanjut, Jamiluddin memaparkan bahwa narasi orang kampung sering digunakan untuk membangun citra sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan istimewa atau hak untuk mengatur secara berlebihan.

“Ungkapan ‘saya bukan siapa-siapa’ bermakna pengakuan kerendahan hati, posisi yang tidak penting, atau ketiadaan kekuasaan/pengaruh dalam suatu konteks,” paparnya.

Di sisi lain, Jamiluddin melihat adanya potensi bahwa pernyataan tersebut merupakan strategi balasan terhadap klaim-klaim politik dari pihak luar, termasuk JK.

“Dalam konteks respon terhadap klaim pihak lain, ungkapan ini dapat digunakan sebagai balasan santuy untuk menekankan bahwa meskipun berasal dari latar belakang biasa, seseorang tetap bisa mencapai posisi tertinggi tanpa bergantung pada pihak tertentu,” tegasnya.

Ia menyimpulkan bahwa melalui narasi tersebut, Jokowi seolah ingin menegaskan kemandirian politiknya meski menyandang predikat sebagai orang kampung.

“Jokowi meskipun mengklaim sebagai orang kampung, ia dalam mencapai posisi presiden tanpa tergantung pda pihak tertentu, termasuk tentunya JK,” tutup Jamiluddin.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya