

DEMOCRAZY.ID – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tampaknya sedang menyiapkan amunisi terbesar sekaligus paling spekulatif menjelang Pemilu 2029.
Partai yang identik dengan generasi muda ini secara resmi menempatkan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai patron politik utama di lini terdepan.
Rencana besar pun telah digulirkan: Jokowi dijadwalkan bakal “turun gunung” untuk berkeliling Indonesia, masuk ke kota-kota hingga tingkat kecamatan demi memenangkan PSI.
Namun, di tengah euforia kader PSI, sebuah peringatan keras datang dari pengamat politik.
Langkah megah ini dinilai sebagai perjudian tingkat tinggi, bahkan berisiko menjadi bumerang fatal yang bisa mematikan langkah PSI menuju Senayan.
Mengapa pesona sang mantan presiden dinilai tak lagi sama, dan apa risiko terbesar yang sedang dipertaruhkan?
Rencana safari politik ini bukanlah sekadar isu. Ketua DPP PSI, Bestari Barus, mengungkapkan bahwa Jokowi kini sudah sepenuhnya menjadi bagian dari keluarga besar PSI.
Langkah ini merupakan realisasi dari komitmen yang disampaikan Jokowi saat menghadiri Rakernas PSI pada Januari lalu.
Beliau sudah menyampaikan, ‘Saya masih kuat turun sampai ke kabupaten/kota, bahkan jika dibutuhkan sampai ke kecamatan.’ Ini betul-betul membakar semangat kawan-kawan semuanya, ujar Bestari.
Bagi PSI, kehadiran fisik Jokowi di lapangan diharapkan menjadi magnet elektoral instan guna mengamankan tiket kelolosan parlemen (parliamentary threshold) yang gagal mereka raih di pemilu-pemilu sebelumnya.
Narasi “Jokowi Effect” coba dihidupkan kembali secara total.
Meskipun strategi ini terlihat menjanjikan di atas kertas, Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, memberikan analisis yang jauh lebih skeptis dan menohok.
Menurutnya, mengandalkan figur Jokowi hari ini untuk mendongkrak elektabilitas adalah kalkulasi yang keliru.
Jamiluddin menilai realitas politik hari ini telah bergeser pasca-Jokowi tidak lagi menjabat sebagai presiden aktif.
Masyarakat kini melihat figur Jokowi dengan kacamata yang jauh lebih kritis.
Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya seperti 10 tahun lalu.
Sebelum Jokowi berkeliling Indonesia membawa panji-panji PSI, sebaiknya perlu dikaji ulang plus minusnya.
Jangan sampai PSI kembali gagal ke Senayan hanya karena salah menilai keperkasaan Jokowi. — Jamiluddin Ritonga, Pengamat Komunikasi Politik
Analisis tajam Jamiluddin menyoroti dampak psikologis pemilih di akar rumput.
Kehadiran Jokowi keliling daerah membawa bendera PSI tidak secara otomatis diterjemahkan sebagai tambahan suara.
Justru, ada dua risiko fatal yang membayangi:
Bagi kelompok masyarakat yang kritis atau merasa kecewa dengan dinamika politik di akhir masa jabatan Jokowi, kedatangan sang mantan presiden justru bisa memicu resistensi.
Bukannya merangkul pemilih baru, safari politik ini ditakutkan malah memicu gerakan antipati yang merugikan PSI.
Dengan terus-menerus berlindung di bawah bayang-bayang kebesaran satu orang tokoh masa lalu, PSI justru berisiko kehilangan jati dirinya.
Partai ini terancam dinilai tidak mandiri dan gagal melahirkan kader muda yang memiliki daya tarik elektoral organik.
Di sisi lain, langkah PSI memajang Jokowi di baris depan juga memicu riak di lingkaran pendukungnya sendiri.
Kelompok relawan seperti Projo (Pro Jokowi) juga kerap mengklaim arah politik sang mantan presiden.
Walau sempat dibantah adanya istilah “perebutan” pengaruh, publik membaca adanya ego sektoral yang kental di tingkat akar rumput.
Ketidakpastian ini membuat publik sangsi: sejauh mana sebenarnya Jokowi Effect masih akan sakti pada tahun 2029 nanti?
Politik adalah seni mengukur momentum. Bagi PSI, menurunkan Jokowi ke tingkat kecamatan adalah langkah all-out yang sangat berani.
Namun, jika kalkulasi di lapangan keliru, strategi ini bisa berbalik menjadi bumerang fatal yang justru menjauhkan swing voters dan pemilih rasional.
PSI harus membuktikan bahwa mereka layak dipilih karena gagasan dan kapasitas orisinal partainya, bukan sekadar karena faktor kedekatan dengan sang patron politik.
Sumber: Akurat