Jasa Boyong Jokowi dari Solo Diungkit, PSI Ngamuk: Penentu Kemenangan Itu Rakyat, Bukan JK!

DEMOCRAZY.ID – Manuver Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), yang mengungkit jasanya memboyong Joko Widodo atau Jokowi dari Solo hingga menjadi presiden, mendapat respons menohok dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, menegaskan bahwa penentu utama kemenangan bukanlah “pembawa” atau “pengusung”, melainkan suara rakyat.

Ia menyebut dalam setiap kontestasi politik, variabel kemenangan sangatlah kompleks.

Meski peran tokoh seperti JK ada, namun tanpa restu dari masyarakat luas, jalan menuju kursi presiden dipastikan buntu.

“Siapapun yang pernah ikut kontestasi pemilihan pasti tau bahwa banyak elemen yang saling mempengaruhi. Ada elektabilitas calon atau pasangan calon, tim sukses, dukungan parpol, dan yang paling utama tentunya dukungan masyarakat,” ujar Grace saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Menurut Grace, siapa pun yang merasa berjasa membawa seorang calon, harus menyadari bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemilih.

“Mau siapapun yang mengusung atau mendukung atau membawa jikalau tidak didukung masyarakat, sulit sekali untuk bisa terpilih,” tegas Grace.

Meski meluruskan narasi JK, Grace tetap menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JK di masa lalu.

Ia menilai JK sebagai politikus senior yang sangat paham dengan dinamika pemilihan umum, mengingat rekam jejak JK yang berkali-kali terjun dalam kontestasi.

“Pak JK sudah beberapa kali ikut kontestasi pasti paham hal hal ini. Terima kasih untuk dukungan Pak JK. Pak JK telah turut melahirkan salah satu pemimpin nasional terbaik dalam sejarah negeri ini,” pungkasnya.

PSI Bela Jokowi, Ungkit JK Kalah Saat Calonkan Anies dan Nyapres di 2009

Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus membela Joko Widodo (Jokowi) yang disebut bisa jadi Presiden karena peran Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK). Bestari Barus justru mengungkit rekam jejak JK.

Bestari Barus awalnya mengaku terkejut atas pernyataan JK. Ia mengatakan JK tidak pernah se-emosional ini.

“Ya, saya juga baru tahu. Ya gimana ya, saya kaget aja gitu kan. Pak JK itu kan seorang negarawan yang saya tidak pernah apa ya, melihat beliau se-emosional begitu menyikapi persoalan-persoalan. Biasanya itu Pak JK itu orangnya lemah lembut, nggak tahu sekali ini kenapa gitu ya,” kata Bestari Barus saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Bestari lalu menyampaikan bahwa pencalonan bukan persoalan perorangan.

Menurutnya, ada peran berbagai pihak, termasuk partai politik.

“Ya saya kira ini ya, itu sebagaimana siapa yang dicalonkan itu kan bukan perorangan ya, tapi lebih kepada peserta pemilunya kan partai politik pengusung secara bersama-sama,” ucap dia.

“Nggak satu-dua orang. Satu-dua orang itu mungkin ada yang kemudian mempromosikan, ada kemudian membentuk tim-tim pemenangan dan seterusnya. Ya saya kira banyak orang yang berperan ketika itu ya partai-partai pengusung gitu ya,” lanjutnya.

Namun, ia tidak masalah jika JK merasa punya peran besar terhadap pencalonan Jokowi. Ia menghargai itu.

“Ya kalau pun Pak JK merasa bahwa beliau punya peran ya patut kita hargailah sebagai senior politik berperan melahirkan apa namanya kesepakatan untuk mendukung Pak Jokowi beserta dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden ya itu kan sesuatu yang baik sebetulnya,” ujar dia.

Meski begitu, Bestari juga mengungkit momen-momen JK di kontestasi Pilpres sejak 2009.

Ia menyebut JK kalah saat Pilpres 2009 lalu kalah saat menyatakan dukungan terhadap Anies Baswedan pada 2024 kemarin.

“Siapa mendukung siapa itu biasa, tapi siapa yang mendapat dukungan rakyat itu lah yang menang, di momen saat pencalonan Anies kemarin dan 2009 saat melawan Pak SBY itu kalah juga,” tuturnya.

Ia menekankan kemenangan seseorang dalam pilpres bergantung pada sosok yang diterima oleh rakyat.

“Jadi yang diterima rakyat itu adalah kalau waktu berpasangan sama Pak SBY ya SBY yang diterima rakyat, saat berpasangan dengan Jokowi, Jokowi yang diterima rakyat, pada saat (JK) pasangan dengan si anu (Wiranto) kan nggak diterima rakyat, akhirnya nggak terpilih,” sebut dia.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya