DEMOCRAZY.ID – Juru bicara Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat ‘tujuh klaim palsu” terkait perang dengan Iran hanya dalam kurun waktu satu jam.
Tuduhan Ghalibaf itu merespons serangkaian unggahan Trump di media sosial yang mengklaim sejumlah kemajuan dalam perundingan dengan Iran jelang berakhirnya masa gencatan senjata.
“Presiden Amerika Serikat membuat tujuh klaim dalam satu jam, ketujuh-tujuhnya adalah palsu,” kata Ghalibaf dalam unggahannya di X dilansir Hindustan Times, Sabtu (18/4/2026).
“Mereka tidak memenangi perang dengan kebohongan-kebohongan ini, dan mereka tentunya tidak akan mendapatkan apapun dari negosiasi. Dengan berlanjutnya blokade, Selat Hormuz tetap tidak akan dibuka,” kata Ghalbaf. menambahkan.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa perlintasan (Hormuz) “dibuka sepenuhnya” untuk kapal-kapal komersial “untuk sisa masa gencatan senjata” dan hanya untuk rute yang dikoordinasikan dengan otoritas Iran.
Peringatan dari Ghalibaf terkait dengan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Trump lewat pesannya di Truth Social mengatakan bahwa blokade akan tetap “dalam kekuatan penuh” hingga apa yang dia sebut sebagai “transaksi” dengan Iran rampung sepenuhnya.
۱- رئیس جمهور آمریکا در یک ساعت هفت ادعا مطرح کرد که هر هفت ادعا کذب است.
۲- با این دروغگوییها در جنگ پیروز نشدند و حتما در مذاکره هم راه به جایی نخواهند برد.
۳- با ادامهٔ محاصره، تنگهٔ هرمز باز نخواهد ماند.— محمدباقر قالیباف | MB Ghalibaf (@mb_ghalibaf) April 17, 2026
Iran menegaskan, berlanjutnya blokade akan berujung pada penutupan kembali Selat Hormuz.
Lebih dari 30 kapal komersial saat ini berlayar menuju Selat Hormuz, terdiri atas 23 kapal dari Teluk Persia dan delapan kapal dari Teluk Oman, menurut data MarineTraffic yang dianalisis RIA Novosti pada Jumat (17/4/2026).
Sebanyak 23 kapal, sebagian besar kapal kargo kering, mendekati jalur maritim tersebut dari Teluk Persia dan dari sisi sebaliknya, dari Teluk Oman, delapan kapal sedang dalam perjalanan, enam di antaranya adalah kapal tanker minyak, menurut data tersebut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Jumat (17/4/2026, mengatakan, Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah “kondisi memungkinkan”.
Pernyataan itu disampaikan setelah Starmer mengikuti KTT internasional yang diselenggarakan Prancis untuk keamanan maritim di Selat Hormuz.
“Saya dapat memastikan bahwa, bersama dengan Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan,” kata Starmer kepada wartawan setelah KTT yang diikuti perwakilan 49 negara tersebut.
Starmer menegaskan bahwa misi pertahanan tersebut sepenuhnya bersifat damai guna menjamin keamanan pelayaran komersial dan mendukung pembersihan ranjau.
Lebih dari belasan negara telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengirim peralatan militer ke Selat Hormuz setelah gencatan senjata berkelanjutan antara Iran dan AS disepakati, kata Starmer.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan Teheran menolak gencatan senjata yang sifatnya sementara dan berupaya mengakhiri perang di seluruh kawasan Timur Tengah.
Berbicara di sela-sela Forum Diplomasi Antalya, Jumat (17/4/2026), Khatibzadeh mengatakan gencatan senjata apa pun harus mencakup semua zona konflik “dari Lebanon hingga Laut Merah”.
“Kami tidak menerima gencatan senjata sementara,” katanya.
Menegaskan bahwa lingkaran konflik “harus berakhir untuk selamanya”, Khatibzadeh mengatakan mediasi Pakistan berupaya mencapai tujuan tersebut.
Mengenai Selat Hormuz, ia mengatakan jalur maritim itu secara historis tetap terbuka dan bisa diakses, meskipun terletak dalam teritori Iran.
Khatibzadeh menuduh AS dan Israel memicu ketidakstabilan di kawasan, dan mengatakan tindakan mereka telah berdampak negatif pada perdagangan global dan perekonomian yang lebih luas.
Sumber: Republika