DEMOCRAZY.ID – Meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) terus menjadi perbincangan publik.
Kali ini, kritik datang dari cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Islah Bahrawi, yang mempertanyakan mekanisme pelaksanaan program tersebut.
Ia menyinggung ketentuan yang disebut mengatur sanksi bagi peserta yang mengundurkan diri serta santunan bagi peserta yang meninggal dunia.
Islah mengkritik perbedaan antara besaran denda bagi peserta yang mengundurkan diri dengan santunan yang diberikan kepada keluarga peserta yang meninggal.
“Mundur didenda Rp100 juta. Mati diberi santunan Rp50 juta,” ujar Islah, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan persoalan yang menyangkut nilai kemanusiaan.
“Kopdesnya belum buka, persoalan nyawa sudah jadi komoditas rugi-laba,” ujarnya.
Lebih jauh, Islah juga melontarkan kritik terhadap pelaksanaan program yang dinilainya terlalu ekstrem.
“Harus mati dua kali baru bisa mundur. Proyek brutal!” cetusnya.
Selain itu, Islah menyinggung posisi Kementerian Koperasi dalam pelaksanaan Program Koperasi Desa Merah Putih.
“Hanya namanya saja Koperasi Desa, Kementerian Koperasi tidak begitu dianggap dalam proyek KDMP,” sesalnya.
Ia kemudian melontarkan kritik terhadap pihak yang disebut paling dominan dalam program tersebut.
“Ini bisnisnya tentara!” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri HAM meminta pelaksanaan program tersebut dievaluasi secara menyeluruh, termasuk metode pelatihan yang diterapkan.
Pigai mengaku prihatin atas peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut.
Menurutnya, evaluasi perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Natalius Pigai juga menyampaikan duka cita kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia selama mengikuti Latsarmil.
“Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa,” ujar Pigai, dikutip Fajar.co.id, Senin (29/6/2026).
Pigai menegaskan bahwa sistem pendidikan dalam Latsarmil perlu dikaji secara menyeluruh.
Ia menekankan bahwa ada sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian dalam penyelenggaraan pelatihan.
“Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih semestinya tidak hanya berorientasi pada aspek fisik.
Pigai menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek penting yang perlu dibangun dalam proses pelatihan, yakni pengetahuan, keterampilan, dan mental.
“Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam Latsarmil ini, yakni aspek pengetahuan, keterampilan, dan mental,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa pembentukan mental peserta tidak harus dilakukan melalui pola pelatihan ala militer.
“Ihwal penguatan mental tidak mesti melalui pelatihan bergaya militer,” tandasnya.
Sumber: Fajar