

DEMOCRAZY.ID – Ambisi Amerika Serikat (AS) untuk membangun benteng pertahanan udara mutakhir di luar angkasa bakal menguras kantong dalam-dalam.
Untuk mencegat serangan terbatas yang hanya terdiri dari 10 rudal secara bersamaan, Washington dilaporkan harus meluncurkan konstelasi masif berisi 7.800 satelit dengan estimasi biaya mencapai US$743 miliar atau setara Rp13 kuadriliun selama jangka waktu 20 tahun.
Melansir laporan RIA Novosti, Senin (18/5/2026), rincian anggaran super jumbo tersebut diungkapkan oleh Kantor Anggaran Kongres AS (CBO).
Angka fantastis ini merujuk pada cetak biru lapisan berbasis antariksa dalam proyek payung udara terintegrasi bernama Golden Dome (Kubah Emas) yang tengah digodok oleh Departemen Pertahanan AS.
Baca JugaLihat postingan ini di Instagram
Lapisan pencegat berbasis ruang angkasa ini resmi menjadi komponen paling mahal di dalam arsitektur proyek Golden Dome.
Jika ditotal secara keseluruhan—mulai dari tahap pengembangan, biaya operasional, hingga pemeliharaan jangka panjang—anggarannya diproyeksikan membengkak hingga US$1,2 triliun (sekitar Rp21,2 kuadriliun) untuk masa bakti 20 tahun.
Data CBO menunjukkan bahwa sektor antariksa ini saja sudah mengisap 60 persen dari total seluruh pengeluaran proyek, serta menyumbang 70 persen dari total biaya akuisisi awal yang dipatok sebesar US$1 triliun (sekitar Rp17,6 kuadriliun).
Nilai ini jelas memicu perdebatan sengit di Washington. Pasalnya, angka perhitungan CBO jauh melampaui estimasi awal yang pernah diajukan oleh Direktur Kantor Golden Dome, yang sebelumnya mengklaim proyeksi biaya hanya berkisar di angka US$185 miliar (sekitar Rp3,2 kuadriliun) untuk masa pengerjaan 10 tahun ke depan.
CBO menggarisbawahi bahwa tingginya biaya tersebut dipicu oleh faktor teknis di ruang angkasa. Satelit-satelit pencegat ini nantinya dioperasikan pada orbit rendah Bumi (LEO) dengan ketinggian berkisar antara 300 hingga 500 kilometer.
Berada di zona tersebut berarti satelit harus berhadapan dengan hambatan atmosfer yang cukup kuat.
Efeknya, masa pakai operasional masing-masing satelit menjadi sangat pendek, yakni hanya bertahan sekitar lima tahun saja.
Demi menjaga kuota 7.800 satelit tetap aktif dan siaga di langit, Pentagon dipaksa melakukan manajemen logistik yang melelahkan. AS harus meluncurkan sedikitnya 1.600 satelit pengganti setiap tahun, atau setara dengan total 30.000 peluncuran roket dalam kurun waktu dua dekade.
Dengan asumsi biaya peluncuran masa depan ditekan hingga US$500 per kilogram, rata-rata ongkos produksi dan peluncuran per satu unit satelit diprediksi tetap bertengger di angka US$22 juta.
Kebutuhan jumlah satelit yang luar biasa masif ini bukan tanpa alasan ilmiah.
Konstelasi ribuan satelit ini dirancang khusus untuk mampu mencegat rudal musuh pada fase awal peluncuran (boost phase).
Fase krusial ini terhitung sangat pendek karena hanya berlangsung selama kurun waktu 3 hingga 5 menit saja sejak misil meluncur.
Karena satelit di orbit rendah terus bergerak konstan dalam jalur orbitnya dan tidak bisa diam terpaku di atas satu lokasi peluncuran tertentu, maka ribuan unit satelit harus disebar melingkari Bumi.
Pola ini diterapkan agar selalu ada satelit pencegat yang posisinya paling dekat dengan target sebelum fase krusial peluncuran misil tersebut selesai.
Selain membakar anggaran di langit, mega proyek Golden Dome juga membutuhkan suntikan dana masif untuk memperkuat pertahanan berbasis darat serta sistem infrastruktur pelacakan radar.
CBO memperkirakan penggelaran di 35 sektor regional akan menelan biaya hingga US$187 miliar (sekitar Rp3,3 kuadriliun) yang dikhususkan untuk sistem pertahanan terminal dalam menghalau ancaman rudal jelajah konvensional dan rudal hipersonik masa depan.
Lebih lanjut, pembangunan tiga situs pertahanan luas atas akan menambah beban biaya sebesar US$46 miliar (Rp812 triliun), disusul empat situs pertahanan luas bawah senilai US$29 miliar (sekitar Rp512 triliun).
Sementara itu, jaringan konstelasi satelit yang murni didedikasikan untuk pelacakan optik diperkirakan memakan biaya US$90 miliar, ditambah US$92 miliar lagi untuk pos riset, pengembangan, serta integrasi sistem menyeluruh.
Sumber: Inilah