

DEMOCRAZY.ID – Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari menegaskan, Zionis Israel tidak akan pernah menghentikan agresi dan pembunuhan terhadap rakyat Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat.
Pernyataan keras tersebut disampaikannya di tengah peringatan Hari Nakba ke-78 yang jatuh pada 15 Mei 2026.
Namun di balik pernyataan keras itu, Abdalfatah justru mengungkapkan munculnya tanda-tanda keputusasaan dan keretakan psikologis di internal elite politik Israel sendiri.
Menurut Abdalfatah, agresi brutal yang terus dilakukan Israel menunjukkan rezim Zionis kini semakin mempertontonkan watak kolonialismenya secara terbuka kepada dunia.
“Israel tidak akan menghentikan pembunuhan di Gaza dan Tepi Barat. Orang-orang itu, saya tidak tahu mungkin mereka sangat menyukai darah kami, mereka senang melihat darah kami mengalir,” ucap Abdalfatah kepada awak media di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam momentum Hari Nakba, peringatan tragedi pengusiran massal rakyat Palestina dari tanah kelahiran mereka pada 1948, yang menjadi awal berdirinya rezim Zionis Israel.
Abdalfatah mengungkapkan, salah satu menteri Israel baru-baru ini secara terang-terangan menyampaikan rencana untuk menguasai seluruh wilayah Gaza dan mengusir penduduk Palestina dari tanah mereka sendiri.
Yang mengejutkan, kata dia, tidak ada penolakan berarti dari elite politik Israel terhadap pernyataan tersebut.
Hal itu dinilai sebagai sinyal agenda pengusiran warga Palestina kini telah menjadi konsensus politik internal Israel.
“Mengherankannya, tidak ada satu pun pihak di internal Israel yang mengecam pernyataannya. Itu artinya seluruh pemimpin mereka mendukung pengusiran rakyat kami dari tanah mereka di Gaza dan mendukung pembangunan permukiman ilegal di tanah kami,” jelasnya.
Bagi Palestina, kondisi tersebut memperlihatkan ancaman terbesar saat ini bukan hanya serangan militer, tetapi upaya penghapusan eksistensi rakyat Palestina dari tanahnya sendiri.
Di tengah tekanan dan jatuhnya korban sipil yang terus meningkat, Abdalfatah menegaskan perjuangan Palestina tidak akan berhenti meski Zionis Israel terus meningkatkan agresinya.
Ia menyebut rakyat Palestina kini hidup dalam kesadaran perjuangan lintas generasi, di mana kemerdekaan dianggap sebagai warisan yang harus diteruskan anak cucu mereka.
“Perjuangan kami akan terus berlanjut, kami tidak akan berhenti. Seperti yang saya katakan, kami percaya negara saya akan merdeka. Palestina akan merdeka,” katanya.
“Jika mereka membunuh 100.000 orang lagi dari rakyat saya, generasi Palestina yang tersisa akan tetap melanjutkan perjuangan ini sampai melihat Palestina merdeka,” tegasnya melanjutkan.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjuangan Palestina kini telah melampaui sekadar perlawanan bersenjata.
Ini telah berubah menjadi perjuangan identitas, memori sejarah, dan keberlangsungan bangsa.
Dalam bagian paling menarik pernyataannya, Abdalfatah justru mengungkap pengamatannya terhadap media dan perdebatan internal Zionis Israel.
Menurut dia, sebagian elite Zionis sebenarnya mulai menyadari bahwa Palestina suatu saat akan tetap merdeka.
Ia mengatakan, tanda-tanda keputusasaan mulai terlihat dari cara para pemimpin Zionis Israel berbicara kepada publik mereka sendiri.
“Saya rasa karena saya membaca surat kabar mereka dan memahami bahasa mereka dengan sangat baik ketika mereka berbicara di TV kepada rakyatnya sebagian besar pemimpin mereka pun sebenarnya percaya bahwa Palestina suatu hari nanti akan merdeka. Jadi, keyakinan itu bukan hanya milik bangsa Palestina semata,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa di tengah kekuatan militer dan dukungan politik yang dimiliki Israel, terdapat kegelisahan internal, pendudukan panjang terhadap Palestina tidak akan mampu memadamkan semangat perlawanan rakyat Palestina.
Bagi Palestina, keyakinan terhadap kemerdekaan kini bukan hanya slogan perjuangan, tetapi dianggap mulai terbaca bahkan dari psikologi politik lawan mereka sendiri.
Sumber: Inilah