Dihantam Demo, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Sempat Mendadak Gelar Istighosah! Takut Massa atau Cari Simpati?

DEMOCRAZY.ID – Menjelang rencana aksi demonstrasi besar yang dipusatkan di Samarinda, Kalimantan Timur, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud memilih menempuh pendekatan spiritual.

Ia bersama jajaran Pemerintah Provinsi Kaltim menggelar shalat istighosah berjamaah di Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Gubernur Kaltim, pada Senin (20/4/2026) malam.

Kegiatan tersebut berlangsung khidmat, diawali dengan shalat Magrib berjamaah dan dilanjutkan dengan doa bersama.

Istighosah ini dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim, mulai dari kepala dinas hingga pejabat fungsional, sebagaimana tertuang dalam undangan resmi yang beredar luas di internal pemerintahan.

Momentum doa bersama ini beriringan dengan meningkatnya tensi politik di daerah.

Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam aliansi sipil disebut tengah mempersiapkan aksi demonstrasi besar pada 21 April 2026.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap berbagai kebijakan dan kontroversi yang dikaitkan dengan kepemimpinan Rudy Mas’ud.

Dalam konteks itu, istighosah dimaknai sebagai upaya memohon keselamatan dan menjaga kondusivitas daerah.

Ketua MUI Kalimantan Timur, KH Muhammad Rasyid, menegaskan bahwa doa bersama tersebut ditujukan agar penyampaian aspirasi masyarakat dapat berjalan tertib, tanpa kekerasan, serta tetap dalam koridor demokrasi yang sehat

Pada dasarnya kita berdoa agar apa yang dilakukan, termasuk rencana demonstrasi, bisa berjalan baik, tertib, dan tidak anarkis,” ujarnya.

Di sisi lain, publik di media sosial merespons kegiatan ini dengan beragam pandangan.

Sejumlah warganet menilai langkah tersebut sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang wajar di tengah situasi genting.

Namun tak sedikit pula yang melontarkan kritik bernada sinis.

Narasi seperti “mendadak jadi alim” ramai beredar, mencerminkan skeptisisme sebagian masyarakat terhadap motif di balik kegiatan keagamaan tersebut.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena interpretasi publik atas tindakan simbolik pejabat.

Di satu sisi, istighosah dapat dilihat sebagai tradisi religius yang mengakar dalam budaya birokrasi Indonesia.

Namun di sisi lain, timing pelaksanaannya yang berdekatan dengan agenda demonstrasi besar memunculkan tafsir politis yang sulit dihindari.

Terlepas dari pro dan kontra, langkah Pemprov Kaltim tersebut menandai upaya meredam potensi eskalasi konflik melalui pendekatan non-represif.

Pemerintah daerah, tokoh agama, hingga aparat keamanan sama-sama menyerukan pentingnya menjaga stabilitas dan mengedepankan dialog.

Kini, perhatian publik tertuju pada bagaimana dinamika di lapangan akan berkembang.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya