

DEMOCRAZY.ID – Nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026, kembali melemah ke level Rp 17.668 per dolar AS, dari posisi sebelumnya di Rp 17.597 per dolar AS.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dibanding-bandingkan dengan respons Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Rupiah melemah pada 2013 silam menjadi sorotan.
Menurut Kepala Negara, pelemahan Rupiah belum terlalu berdampak langsung bagi mayoritas masyarakat, khususnya warga di daerah yang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang ada yang selalu entah apa, saya gak mengerti, sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos akan apa, ya kan Rupiah begini, dolar begini,” kata Prabowo saat peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu, 16 Mei 2026.
Kepala Negara juga mengatakan kalau rakyat di desa tidak menggunakan Rupiah. Oleh sebab itu, dirinya memastikan Indonesia dalam keadaan baik.
“Orang, rakyat di desa nggak pake dolar, kok, ya, kan, pangan aman energi aman, ya, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ucapnya.
Pernyataan tersebut kontras dengan sikap yang pernah ditunjukkan SBY saat Rupiah melemah pada 2013.
Kala itu, kurs Rupiah bergerak dari kisaran Rp11.600 ke Rp11.700 per dolar AS.
Dalam pidatonya pada 27 November 2013, SBY justru meminta seluruh pihak mewaspadai dampak buruk dari gejolak ekonomi global.
Ia menilai pelemahan Rupiah menjadi sinyal serius yang harus dihadapi dengan realistis.
“Bad news-nya, Rupiah melemah,” kata SBY, kala itu.
Ia juga menyebut Indonesia kemungkinan memasuki “new equilibrium” atau keseimbangan baru dalam kondisi ekonomi nasional.
Presiden ke-6 RI itu mengakui sejumlah indikator ekonomi sedang mengalami tekanan, mulai dari pelemahan harga saham hingga defisit perdagangan.
“Saya duga kita akan memiliki new equilibrium, normal baru,” jelasnya.
Ia menjelaskan pemerintah saat itu sudah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi impor dan mendorong ekspor melalui berbagai insentif fiskal dan kebijakan ekonomi.
“Kesimpulan dari situasi ekonomi kita dan dunia, ekonomi Indonesia tahun ini dan tahun depan tidak mudah. Saya lebih baik bicara seperti itu, daripada suka mengalirkan angin surga,” ungkap SBY.
👇👇
Beda bangeeetttt gaya dua orang presiden ini saat menghadapi tekanan rupiah yg melemah
SBY : memilih berterus terang, kepada rakyat & berusaha mencari cara agar ekonomi bisa kembali membaik
PS : orang di desa gak pake dollar kog !
Dahlah kalian nilai sendiri saja pic.twitter.com/cFMPDGtgFY
Baca Juga— 🅽🅸🅲🅺🆈 🅰🆁🆃🅰 🇮🇩 (@Inie_UtyCute) May 19, 2026
Sumber: VIVA