Biadab! Israel Bajak Global Sumud Flotila, Netanyahu Malah Bangga Berhasil Tangkap Aktivis Gaza

DEMOCRAZY.ID – Militer Israel kembali menjadi sorotan dunia setelah mencegat konvoi kapal kemanusiaan Global Sumud Flotila di perairan internasional.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan memuji operasi militer tersebut meski menuai kecaman dari berbagai pihak internasional.

Konvoi bantuan itu diketahui membawa kebutuhan kemanusiaan seperti susu bayi dan obat-obatan untuk warga Jalur Gaza yang masih dilanda krisis berkepanjangan.

Operasi Militer di Laut Internasional

Pasukan komando Israel dilaporkan naik ke kapal-kapal bantuan saat armada berada sekitar 460 kilometer di sebelah barat Siprus.

Penyelenggara Global Sumud Flotila menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum maritim internasional.

Rekaman siaran langsung memperlihatkan para penumpang tak bersenjata mengangkat tangan ketika pasukan bersenjata memasuki kapal.

Hingga Senin sore waktu setempat, sebagaimana laporan BBC, sekitar 40 dari lebih dari 50 kapal bantuan yang berangkat dari Marmaris, Turki, dilaporkan telah disita.

Lebih dari 460 aktivis dari 45 negara juga disebut ikut ditahan dalam operasi tersebut.

Netanyahu Bela Operasi Angkatan Laut Israel

Di tengah kritik internasional, Netanyahu justru memberikan apresiasi kepada angkatan laut Israel melalui pesan radio resmi.

“Anda melakukan ini dengan sukses besar, dan harus saya katakan juga dengan tenang,” kata Netanyahu dalam transkrip resmi kantornya.

Pemerintah Israel berdalih operasi itu dilakukan demi mencegah upaya menembus blokade terhadap Hamas di Gaza.

Kementerian Luar Negeri Israel juga menuduh misi tersebut memiliki kepentingan politik dan dapat mengganggu rencana perdamaian yang didukung Presiden AS, Donald Trump.

Israel turut mengklaim bahwa bantuan kemanusiaan ke Gaza telah mencapai 1,5 juta ton dalam tujuh bulan terakhir.

Aktivis dan Turki Kecam Israel

Insiden tersebut melibatkan sejumlah tokoh internasional, termasuk Margaret, saudara perempuan Presiden Irlandia, Catherine Connolly.

Catherine Connolly mengaku khawatir atas keselamatan saudaranya yang ditahan setelah pencegatan di laut internasional.

Pemerintah Turki juga melayangkan kecaman keras dan menyebut tindakan Israel sebagai bentuk pembajakan modern.

Sementara itu, pejabat Hamas Basem Naim menilai operasi tersebut sebagai tindakan yang merusak hukum internasional.

Penyelenggara armada bantuan membantah tuduhan Israel dan menegaskan mereka tidak memiliki hubungan dengan kelompok IHH maupun insiden kapal Mavi Marmara pada 2010.

Krisis Kemanusiaan Gaza Masih Berlangsung

Insiden ini disebut mengulang peristiwa sebelumnya ketika Israel mencegat armada serupa di dekat perairan Kreta, Yunani, pada April 2026.

Saat itu, sebanyak 181 aktivis ditahan dan beberapa di antaranya dideportasi setelah menjalani interogasi.

Di tengah klaim Israel mengenai distribusi bantuan, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan mayoritas pengungsi Gaza masih hidup di tenda pengungsian dengan akses terbatas terhadap air bersih dan sanitasi.

Konflik yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023 terus memicu krisis kemanusiaan besar di Gaza dengan korban jiwa yang terus bertambah.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya