Oleh: Karyudi Sutajah Putra | Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Budi Arie Setiadi merasa terhormat ketika Presiden Prabowo Subianto menantangnya untuk masuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atau Partai Gerindra. Akhirnya ia berniat masuk Gerindra.
Gerindra adalah partai politik yang ketua umumnya adalah Prabowo Subianto. Sedangkan PSI adalah parpol yang disokong Joko Widodo, Presiden ke-7 RI.
Budi Arie pun sempat merasa dilematis. Bak menghadapi buah Simalakama: dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati.
Maklum, Jokowi adalah orang yang membesarkannya. Budi Arie pernah diangkat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika di paruh kedua periode kedua pemerintahan Jokowi.
Hal itu sebagai imbalan setelah ProJo, organ relawan yang diketuai Budi Arie, dua kali mendukung Jokowi, yakni di Pemilihan Presiden 2014 dan 2019.
Baru pada Pilpres 2024, ProJo beralih mendukung Prabowo. Budi Arie pun sempat diangkat Prabowo sebagai Menteri Koperasi di awal bekerjanya Kabinet Merah Putih.
Tapi diduga karena kapasitas dan produktivitasnya tak memadai maka ia dicopot Prabowo.
Sebelum dicopot, Budi Arie sempat ditantang Prabowo mau masuk PSI atau Gerindra. Tak kunjung masuk Gerindra, akhirnya Prabowo benar-benar mencopot Budi Arie.
Di sisi lain, Budi Arie butuh perlindungan hukum dan politik dari Prabowo, karena Jokowi sudah tak berkuasa lagi.
Maklum, nama Budi Arie disebut-sebut terlibat dalam kasus gratifikasi perlindungan situs judi online di Kemkominfo, kini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang menyeret sejumlah bekas anak buahnya sebagai tersangka.
Akhirnya ia berniat masuk Gerindra dengan meninggalkan Jokowi. Sebagai buktinya, ia akan mengganti logo ProJo yang bergambar siluet wajah Jokowi dalam lingkaran, dengan gambar lainnya.
Supaya tidak ada kultus individu, kata Budi Arie memberikan alasan mengapa wajah Jokowi akan dihapus dari logo ProJo.
Tidak itu saja. Budi Arie juga membantah ProJo singkatan dari Pro Jokowi.
ProJo, katanya, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “negeri”, atau berasal dari bahasa Jawa Kawi (kuno) yang berarti “rakyat”. Jadi, kata Budi Arie, orang-orang ProJo mencintai negeri dan rakyat Indonesia.
Padahal, sebelumnya Budi Arie secara tegas menyatakan bahwa ProJo adalah singkatan Pro Jokowi. Kalau tidak Pro Jokowi, katanya, berarti bukan ProJo.
Budi pun langsung menyatakan niatnya bergabung ke Gerindra. Niat itu ia sampaikan dalam Kongres ProJo yang kembali memilih dirinya sebagai ketua umum di Jakarta baru-baru ini.
Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Maksud hari masuk Gerindra, apa daya ditolak.
Para pengurus dan kader Gerindra dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jakarta, ternyata menyatakan penolakannya terhadap masuknya Budi Arie.
Ketua Umum Tunas Indonesia Raya (Tidar), organisasi sayap Gerindra, Rocky Candra, juga menolak Budi Arie masuk Gerindra.
Penolakan itu disampaikan pengurus Tidar dari 38 provinsi di Indonesia dan di 9 negara.
Alasannya, kata Rocky, Budi Arie pragmatis. Sementara Gerindra adalah parpol yang dibangun atas dasar idealisme.
Menurut Rocky, banyak parpol melemah bukan karena serangan dari parpol lain atau pihak luar, tapi karena dilemahkan dari dalam melalui infiltrasi.
Artinya, Rocky mencurigai Budi Arie akan melakukan infiltrasi ke Gerindra dan membelokkan garis perjuangan partainya, sehingga parpol berlambang burung Garuda ini pun akan gembos di Pemilu 2029.
Rocky kemudian menyerahkan nasib Budi Arie kepada kearifan Prabowo. Tapi bekas Komandan Jenderal Kopassus itu pun sepertinya sudah tidak nyaman dengan Budi Arie.
Kalau nyaman, mana mungkin yang bersangkutan didepak dari kursi Menteri Koperasi?
Dus, bersiaplah Budi Arie menjadi gelandangan politik. Atau bertahanlah dengan menjadi Ketua Umum ProJo.
Sebab, masuk PSI pun sepertinya tak mungkin bagi Budi Arie, karena PSI pun akan melakukan hal yang sama dengan Gerindra.
PSI tak mau menerima calon kader yang sudah pernah ditolak parpol lain. Jika PSI mau menerima, maka parpol yang kini ketua umumnya Kaesang Pangarep ini akan dianggap sebagai parpol penampung buangan alias bak sampah. Itulah! ***