Oleh: MN Lapong
“Pasang badan untuk Whoosh Jokowi”, adalah sebuah narasi konyol dari episode kebohongan yang belum usai dalam Kekuasaan Prabowo”.
“Mission pemberantasan korupsi ala Prabowo adalah pengecualian Jokowi cs.”
Setelah dijemur Purbaya Yudi Sadewa, Dosa Jokowi dicuci Prabowo, Lalu akan digoreng DPR, Dan kembali rakyat terpaksa menonton konser murahan dengan lagu lama yang sumbang, Sementara semua Kejahatan terhadap Bangsa, Tanah Air NKRI berjalan maju baik-baik saja, Semakin jelas tujuan program Pemerintah bukan untuk Rakyat, Melainkan sesajen bagi Rejim Oligarki, Melanjutkan Serakahnomic, Sial kali bah !!
(Netizen Mustika Sani)
Blunder Paling Fatal! Tanggung Utang Whoosh Tapi Pake Uang Rakyat, Presiden Omon2 rujak Yunarto dan Netizen kepada Presiden.
Dalam pidato Presiden, Prabowo berkomentar soal polemik Kereta Cepat Whoosh. Dis menegaskan KA Cepat Whoosh tak ada masalah.
“Apa itu ribut-ribut Whooh. Saya sudah pelajari masalahnya tidak ada masalah. Saya tanggung jawab itu Whoosh semuanya, saya pasang badan” tegas Prabowo dengan nada tinggi saat meresmikan Stasiun Tanah Abang, Selasa (4/11/2025).
Prabowo mengaku sudah menghitung proyek KA Cepat Whoosh, dan dia menilai tak ada masalah. “Indonesia bukan negara sembarang kita hitung tidak ada masalah,” bebernya.
Prabowo meminta PT Kereta Api Indonesia tak usah khawatir, fokus saja untuk melayanai rakyat dan berjuang untuk rakyat.
“Teknologi dan sarana. Saya sekarang tangung jawab Whoosh. Semua itu public transport dunia jangan dihitung untung rugi tapi manfaat gak untuk rakyat. Di seluruh dunia begitu,” seru Prabowo.
Publik pun kaget mendengarnya! Mereka langsung patah hati dan melampiaskan kejengkelannya, “apa Prabowo masih bisa di percaya atau masih bagian dari Mulyono?
“Tak Ikuti Purbaya, Prabowo Berisiko Terjerat Korupsi Imbas Utang Whoosh, Pukat UGM: Jangan Sembrono.” Itu Judul berita TribuneNews.Com
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa sudah tegas bersikap tak akan membiarkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menanggung utang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh.
Namun, pada pernyataan terbarunya, Presiden Prabowo Subianto, justru menyatakan akan bertanggung jawab penuh.
Sikap tersebut ramai ditafsirkan bahwa Prabowo akan menggunakan APBN untuk membayar utang Whoosh.
Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gajah Mada (Pukat UGM), Zaenur Rohman memperingatkan Prabowo soal risiko terjerat korupsi.
Seperti diketahui, utang proyek Whoosh yang mencapai Rp 116 triliun kini membebani negara.
Menurut Purbays, utang Whoosh yang merupakan proyek business to business (B2B) BUMN menjadi tanggung jawab Danantara sebagai holding BUMN.
Terlebih, Danantara sudah mulai mengelola dividen BUMN yang mencapai sekitar Rp 90 triliun per tahun.
Menaksir Prabowo dalam tindakannya sebagai presiden, dalam politik elit butuh dicerna hati-hati.
Ini tak lepas dari fakta politik Prabowo, bahwa yang terucap dan yang terlihat kadang tidak seperti kenyataan yang nampak hadir ke publik. Prabowo kadang buat kejutan yang menurut hitung hitungan politiknya itu pantas.
Sebagai contoh, dalam kasus RUU pemilu yang dipaksakan DPR dibahas untuk meloloskan Kaesang sebagai calon Gubernur, terpaksa batal karena perintah Prabowo ke Sufmi Dasco agar pembahasan itu di hentikan setelah mahasiswa dan masyarakat turun mengepung DPR.
Hal yang sama terjadi dalam kasus korupsi yang dipaksakan terhadap Hasto dan Lembong selesai dengan putusan Amnesti dan abolisi dari Presiden. Demikian pula sama halnya dalam resuffle kabinet Sri mulyani, Budi Gunawan, dan Budi Arie, setelah pasca prahara Demo 25 Agustus di seluruh Indonesia.
Apakah Prabowo yang dalam pidatonya berapi api memberantas korupsi tanpa pandang bulu, itu benar 100 persen, atau ada hal lain yang menjadi pertimbangannya yang sifatnya kompromistis dengan bos-nya di masa lalu, sehingga memberantas korupsi hanyalah omon-omon yang seolah olah serius namun faktanya masih seperti ejekan Gus Dur, masih model “belah bambu atau tebang pilih”.
Publik melihat sikap melindungi Prabowo dalam dugaan korupsi markup proyek Kereta Cepat Whoosh yang melibatkan Jokowi dan Luhut cs. dieranya cenderung diilindungi, bahkan pasang badan/alias take over tanggung jawab, dibanding kasus-kasus lainnya, seperti korupsi pertamina, haji, tambang, dll.
Omon-omon pemberantasan korupsi ternyata butuh drama panggung depan yang harus ditampakkan pemerintahan Prabowo bahwa Serius memberantas korupsi.
Namun Drama panggung belakang adalah realitas di balik layar, tempat negosiasi, kesepakatan, bahwa ada yang harus disembunyikan dan dikompromikan. Dengan kata lain “mission pemberantasan korupsi ala Prabowo adalah pengecualian Jokowi cs.”
Kita membaca bahwa Dalam beberapa kasus Prabowo selaku Presiden nampak cenderung diam dan tak bereaksi, bahkan melindungi.
Sebagai contoh dalam kasus ijazah Jokowi-Gibran, kasus judol Budi Arie, kasus PIK 2, kasus Silfester dan kasus Whoosh Jokowi.
Namun diluar kasus kasus yang tidak melibatkan (istilah Said Didu Geng Solo Parcok) Prabowo Nampak Tegas.
Situasinya terlihat jelas bahwa sikap Prabowo dalam penegakan hukum / pemberantasan korupsi tetap terbelah dan tidak bulat komitmennya sebagai pimpinan terdepan panutan publik.
Narasinya soal, “Pasang badan untuk Whoosh Jokowi”, itu dinilai sebuah narasi konyol dari episode kebohongan yang belum usai dalam Kekuasaan Prabowo”.
Jika demikian, apakah Presiden Masih Bisa Dipercaya? Atau sebaliknya publik tidak bisa banyak berharap kepada presiden Prabowo jika bayang bayang Jokowi dan genknya masih menghantui Prabowo.
Dengan segala kekuasaan yang di milikinya sebagai presiden, maka masalah terbesar Prabowo bukan lagi soal ketakutan dan keberaniannya terhadap Jokowi dan genknya, melainkan soal keteguhan komitmennya terhadap bangsa dan negara apa asli seratus karat atau palsu! Sama seperti trad record pendahulunya.
Jika demikian halnya publik masyarakat tak boleh menunggu! Hanya ada satu kata “Bergerak Bangkit Melawan!” No Viral, No Justice! No Aksi, No Justice!
Selamat Berjuang!