Untuk Apa Uang Yang Disembunyikan di Bunker Jokowi?

‘Untuk Apa Uang Yang Disembunyikan di Bunker Jokowi’

Oleh: Ali Syarief | Akademisi

Dalam ruang sunyi opini publik, keyakinan kadang lebih kuat dari kebenaran. Ia tak butuh bukti, tak menunggu data, cukup rasa yang berakar dari pengamatan panjang.

Maka, banyak yang percaya — bahwa seorang pemimpin seperti Jokowi di negeri ini, yang dulu menampilkan kesahajaan, kini menyimpan harta begitu besar, seolah tak terhitung jumlahnya.

Tak perlu bukti untuk mempercayainya. Keyakinan itu tumbuh dari aroma ketimpangan, dari pemandangan sehari-hari yang membuat nalar rakyat terhenti.

Bila sebagian orang bekerja keras hanya untuk bertahan, sementara segelintir hidup dalam limpahan yang tak masuk akal, publik tak perlu disuruh menghitung. Mereka hanya merasa — ada yang tidak wajar di sana.

Lantas, untuk apa semua itu? Untuk apa kekayaan yang melampaui batas hidup, yang tak akan habis bahkan bila waktu berputar tiga kali lipat?

Di titik tertentu, harta bukan lagi tanda kemakmuran, melainkan beban yang harus dijaga. Ia menjelma menjadi ketakutan — akan kehilangan, akan diketahui, akan dihakimi sejarah.

Mungkin di situlah ironi manusia berkuasa: semakin tinggi ia mendaki, semakin jauh ia dari ketenangan. Harta yang seharusnya memberi rasa aman, malah menimbulkan gelisah.

Kekuasaan yang mestinya jadi alat kebaikan, justru berubah menjadi pagar pengaman untuk harta yang tak terhitung.

Dan publik — dengan logika dan nalarnya yang sederhana — sulit mempercayai bahwa semua itu diperoleh dengan cara biasa.

Karena mereka tahu, hidup jujur di negeri ini tak menghasilkan keajaiban sebesar itu.

Namun, kita pun sadar: hidup tak melulu tentang benar atau salah. Ada wilayah abu-abu di mana keyakinan menjadi satu-satunya yang bisa dipegang.

Keyakinan bahwa ada sesuatu yang tak semestinya, bahwa keadilan belum tegak, bahwa yang berkuasa terlalu sibuk menimbun daripada menyejahterakan.

Akhirnya, sebagaimana kata orang bijak, uang tak bisa membeli waktu, apalagi ketenangan.

Dan ketika hidup berakhir, semua angka itu lenyap, sementara yang tersisa hanyalah nama — beserta segala keyakinan yang melekat padanya. ***

Artikel terkait lainnya