Mabes TNI Buka Suara Soal Isu ‘Siaga 1’ Usai Puluhan Ribu Prajurit Dikerahkan Masif ke Jakarta

Signature: EI94WHxybe33Z0WkxMStwp9FYq9tEKb3sbV06otSx685CXDgpsGEzuxDd/PdR7rrXnThxSCkMv0cFwRADkA2L7xZHW2Tk6fbA/yfth3PwwDzD0pCRxrQKdFerbJMmzLZDC5G41TU/6zYEMW6pL+3YBkp1dwsmeXnHkExU8rAAxq84Ww4QVZr7PKpBmO2TY9NCVkc9sxB2CHv94978QYGeT4nSiyRhiwPDYzb8A0lJylPG2Nep4vb6JrTv41C57ogsvx1xQMKTefXw2Y0GeiATDrLbDMWcDbam7SYSBADgXfO51ouAHlAJTMaZcmpkEj70zvY5nmASUP2DsVhnazwdPwpzgoTNT6K59XLaCu/mqD0Ly0Son2pAHVZI5PvZmkPlZDjM/8DR2Hu70Nf5MQwo+LrGKS8h8juO1Kvvk1C8KIktzpE9/RgoYfp50OTlrK+18FRm/27ygBGowZslJpYQR24bQic4zQCTqy6qcxnDPDbiarlPzGNRZGB9Z+Igm6monnw2oA+wVZxmcOE6rWXScVgJFL/C56HAbWN8F/NQRF5t2suSBPC7I2wob4PP8AK8+QFLFHx2nTbg3lsbXWZgB7FK5Q+56IjN+K9R0g4PGYEvy45X438Kp4fusJD2Nc7BqSUVUHdAXKxa7yWWXjO8LlUz/JeEGQANCV0AykGKtVsrh3CBzekmOCLUHqHnfZaQZ0C2UECoN6ld5VC9eZDSaqyqDfAZqm8TlbXGOM8iW1QsqEdNILE3TL10dT4/WEYdNE034ih+b8o5r9LdaMSJcI0lfreCyBCD/SKmDjt8r4lMWJdWOQynB2emiRjc5lBk5GCRXBWrgI4KBR1xRcb3heuPsFsvodCG8I0w6iKidzKnwlTwHQ0fKnc0D446FZ0QImEhDGgv1AplHJwSraWmg4Z5JL4nTRAmIS5EJutrxvz4Erq+aOJSdn1Tl4Ps9GdL/EpUXwZGN9oM8eOVMRrVksuUg6mi+2Da6vbCsBZai4=

DEMOCRAZY.ID – Sebanyak 20.980 personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dikerahkan secara bergelombang menuju DKI Jakarta guna mempertebal pengamanan perkembangan situasi ibu kota.

Pergerakan pasukan berskala masif tersebut merujuk langsung pada Surat Telegram Panglima TNI Nomor STR/96/2026 tertanggal 2 November 2026.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut Yayan Sofiyan membeberkan laporan resmi terkait rencana operasi militer tersebut pada Selasa (3/11/2026).

Penebalan kekuatan ini digulirkan melalui empat tahapan taktis yang memadukan kekuatan Korps Marinir, Koarmada RI, Koarmada I, hingga pangkalan logistik.

Mobilisasi personel dari luar wilayah Jakarta bahkan turut mengerahkan armada laut berdaya angkut besar, yakni KRI Makassar dan KRI Surabaya, serta barisan konvoi truk dan bus melalui jalur darat.

Tahap pemungkas operasi menyiagakan sebanyak 13.140 personel matra laut di pangkalan masing-masing sembari menanti instruksi lanjutan untuk bergerak.

Langkah pengerahan puluhan ribu prajurit ini menyedot perhatian publik lantaran berlangsung berbarengan dengan guncangan hukum di Korps Bhayangkara.

Bareskrim Polri pada saat yang sama menetapkan tiga petinggi kepolisian, termasuk sosok Jenderal Listyo Sigit Prabowo, sebagai tersangka dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Menanggapi berbagai spekulasi yang mengaitkan mobilisasi militer dengan kegentingan politik, Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Muhammad Nas segera menepis kekhawatiran masyarakat.

“Pengerahan pasukan merupakan hal yang biasa dilakukan TNI untuk kesiapsiagaan,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (4/11/2026).

Mabes TNI juga meminta langkah penyiagaan pasukan untuk tidak dikait-kaitkan dengan isu apapun, termasuk dugaan penyadapan Presiden.

“Nggak perlu dikait-kaitkan dengan isu apapun,” tegas Muhammad Nas menyudahi pernyataan resminya.

Kemudian saat ditegaskan jurnalis Suara.com melalui pesan singkat terkait apakah status Jakarta naik menjadi siga 1, Nuh tidak menjawab.

Dia menegaskan pengamanan Ibu Kota merupakan hal yang biasa.

“Pengerahan pasukan merupakan hal yang biasa dilakukan TNI untuk kesiapsiagaan. Gak perlu dikait-kaitkan dengan isu apapun,” jelas dia.

Nas kemudian menyampaikan tidak ada istilah siaga 1.

Artikel terkait lainnya