DEMOCRAZY.ID — Kecaman keras tanpa kompromi kembali menghantam jantung kekuasaan dinasti politik Istana Solo.
Budayawan senior Mohamad Sobary melontarkan kritik pedas yang menelanjangi habis kapasitas intelektual dan mental Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, seraya mematikan sisa-sisa pengaruh mantan Presiden Joko Widodo yang kerajaannya disebut telah ambruk total.
Pernyataan menohok tersebut dibeberkan Mohamad Sobary dalam siaran Podcast Obor Rakyat Reborn, di mana ia secara blak-blakan menjuluki Gibran dengan sebutan yang merendahkan namun mencerminkan realitas politik di lapangan.
Sobary menegaskan bahwa Gibran sama sekali tidak memiliki kematangan, ketajaman analisis, maupun kemampuan membaca peta geopolitik nasional.
Sebagai pejabat publik tertinggi kedua di negeri ini, Gibran dinilai buta terhadap konstelasi dan manuver tingkat tinggi yang sedang dimainkan oleh para elite.
“Gibran pangeran bloon, mentahnya mentah, naifnya naif,” cetus Mohamad Sobary, Selasa (27/10/2026).
Sobary menggambarkan bagaimana Gibran berjalan di atas papan catur kekuasaan tanpa mengetahui arah angin, buta terhadap strategi politik ayahnya sendiri, serta gagal memahami cara Presiden Prabowo Subianto memainkan kendali pemerintahan.
“Dia tidak tahu kiri kanan. Dia tidak tahu konteks politik ini sekarang sebenarnya permainan apa. Bapaknya itu main seperti apa, mau ke arah mana, Presiden Prabowo bagaimana mainnya, dia tidak tahu sama sekali. Dia tidak tahu cara membaca peta politik,” tegas Sobary.
Keterkejutan budaya politik ini membuktikan bahwa Gibran hanyalah produk instan dinasti yang diletakkan di pucuk pimpinan tanpa bekal kapasitas kepemimpinan yang memadai.
Tak berhenti pada Gibran, Sobary melayangkan luapan kekecewaan mendalam terhadap rekam jejak penghianatan politik Joko Widodo selama berkuasa.
Dengan bahasa metaforis yang telak, ia menyuarakan rasa muak publik terhadap dinamika rezim sebelumnya.
“Kita malu dan kita pernah merasa seperti dikencingi Jokowi,” ungkap Sobary dengan nada geram.
Sobary mengutip pepatah Jawa untuk memperingatkan bahwa kekuasaan absolut tidak akan pernah bisa lepas dari hukum tabur-tuai atas segala kebohongan dan kecurangan yang telah diperbuat.
“Jokowi metik woing pakarti,” tandasnya, menggambarkan bahwa sang mantan presiden kini sedang memetik buah pahit dari segala perilaku dan perbuatannya sendiri.
Puncak dari kejatuhan trah Solo tersebut digambarkan Sobary melalui runtuhnya pengaruh politik yang selama ini diagung-agungkan para loyalisnya.
“Tembok ratapan itu kerajaannya sudah ambruk. Bangunan keratonnya Jokowi ambruk, tidak ada,” tegas Sobary mengibaratkan hancurnya dinasti kekuasaan tersebut.
Kritik tajam dari budayawan sekaliber Mohamad Sobary semakin menegaskan bahwa legitimasi moral Gibran Rakabuming Raka telah musnah sepenuhnya di hadapan publik dan kaum intelektual.
Ketika “pangeran bloon” dan keraton yang runtuh tidak lagi memiliki perlindungan politik yang utuh, maka momentum pemakzulan melalui Hak Angket DPR RI dan peradilan hukum menjadi harga mati.
Sudah saatnya seluruh sisa-sisa pengaruh klan Solo dibersihkan dari Istana demi mengembalikan marwah kehormatan dan kedaulatan Republik Indonesia!