DEMOCRAZY.ID – Rohwati, mantan guru Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat bersekolah di SMP Negeri 1 Surakarta, mengaku sakit hati mendengar anggapan bahwa mantan muridnya tidak lulus SMA.
Kesaksiannya muncul di tengah perdebatan mengenai riwayat pendidikan Gibran, termasuk pengakuan sejumlah pengguna media sosial yang mengaku sebagai alumni Orchid Park Secondary School di Singapura tetapi tidak mengingat sosoknya.
Rohwati, yang mengajar Gibran pada 1999–2002, mengenang mantan muridnya sebagai siswa dengan kemampuan akademik yang baik.
Ia juga menegaskan bahwa Gibran diterima di SMPN 1 Surakarta melalui jalur akademik, bukan karena status keluarganya.
“Kalau saya agak sakit hati. Nggak mungkin terjadi. Sekelas Pak Jokowi putranya tidak lulus SMA saya tidak mungkin. Terutama saya sebagai gurunya saya termasuk yang tidak terima,” ujar Rohwati, Kamis (22/10/2026).
Menurut Rohwati, kemampuan Gibran dalam bahasa Inggris menjadi salah satu hal yang diingatnya.
Ia menilai keputusan Gibran melanjutkan pendidikan ke Singapura bukan sesuatu yang mengherankan.
“Saya sering mencocokkan dengan Bahasa Inggris termasuk bagus. Makanya ke luar negeri. Wajar banget kalau sekolah di Singapura,” katanya.
Selain kemampuan akademik, Rohwati mengenang sikap Gibran yang tetap menghormati gurunya setelah dewasa.
Ia menyebut kebiasaan Gibran mencium tangan guru ketika bertemu sebagai salah satu kesan yang masih diingatnya.
“Bahkan sudah jadi Wali Kota saya masih guru ketika tahu cium tangan kalau ketemu gurunya. Dari SMP itu kesan sangat menonjol,” tutur Rohwati.
Kesaksian tersebut menggambarkan pengalaman Rohwati ketika mengajar Gibran di tingkat SMP.
Namun, ingatan seorang guru mengenai kemampuan akademik dan perilaku murid tidak dengan sendirinya menjawab persoalan dokumen pendidikan pada jenjang berikutnya.
Di sisi lain, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Meilanie Buitenzorgy, mengunggah komentar sejumlah pengguna media sosial yang mengaku pernah bersekolah di Orchid Park Secondary School, Singapura.
Dalam unggahannya, Meilanie menyindir munculnya kebingungan di kalangan orang-orang yang mengaku bersekolah di institusi tersebut pada periode yang disebut berdekatan dengan masa pendidikan Gibran.
“Waini. Anak Orchid Park Sec School Singapore angkatan sekitaran Gibby mulai pada celingak celinguk, ‘woyyy waktu sekola dulu kok gua ga pernah ketemu ni Wapres tetangga’? Dan komen2 roasting gimanaa gitu. Duh. Gw sih malu. Gatau mas Anang,” tulis Meilanie melalui akun pribadinya, Rabu (21/10/2026).
Unggahan itu menyertakan tangkapan layar percakapan di media sosial, termasuk komentar akun Threads @mamaaqr yang mengaku tidak mengingat Gibran sebagai salah satu teman sekolahnya.
“Hi I am sleepless over the fact that Indonesia’s Vice President went to school at Orchid Park Secondary School. Among all the OPSS friends I made during my sec sch life, he is not one of them. Gdnight,” tulis akun tersebut.
Dalam terjemahan bebas, pengguna itu menyatakan bahwa Gibran bukan salah satu teman yang diingatnya selama bersekolah di Orchid Park Secondary School.
Komentar lain datang dari akun @azlyjnor, yang mengaku satu tahun lebih senior daripada Gibran.
Pengguna tersebut menyebut tidak mengingat sosok Gibran, begitu pula sejumlah teman seangkatan, senior, dan mantan gurunya.
“He was a year my junior but I don’t seem to remember him, neither did anyone from my batch or the seniors. Not even my former teachers. And OPSS at the time was a new school (I was 2nd intake) so everyone knew each other,” tulis akun tersebut.
View on Threads