Kata Bakom RI: Program MBG Sengaja Dijalankan Demi Cetak Anak-Anak Hebat Seperti Lamine Yamal!

DEMOCRAZY.ID – Badan Komunikasi (Bakom) Republik Indonesia (RI) menyebut sulit menemukan anak gesit di Indonesia seperti bintang muda sepak bola Spanyol dan Barcelona, Lamine Yamal.

Pernyataan itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Bakom RI, Hariko WIbowo Satria dalam sebuah program di televisi swasta pada 24 Juli 2026.

Namun kembali ramai belakngan ini.

Mulanya, Hariko memaparkan data buruknya pola makan anak-anak di Indonesia.

Sehingga berujung pada stunting.

“Lebih dari separuh anak-anak kita ini pola makannya buruk 56 persen. Hampir 41 persen anak-anak ini tidak sarapan ke sekolah. Kemudian stunting,” kata Hariko dikutip Senin (28/9/2026).

Hariko lalu menyebut bagaimana pentingnya generasi unggul.

Dia memberi contoh kemunculan Lamine Yamal di dalam dunia sepak bola Spanyol.

Spanyol sendiri menjuarai Piala Dunia 2026 diisi pemain yang didominasi anak muda.

Di antaranya Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun.

“Kemudian kalau lihat kemarin kayak sepak bola itu ya, kayak Spanyol juara itu,” ujar Hariko.

Menurutnya, di Indonesia sulit mencari anak-anak seperti Lamine Yamal.

“Mencari anak-anak seperti Lamine Yamal itu, yang gesit seperti itu agak keseusahan kita, ditengah kita banyak populasinya,” terang Hariko.

Karenanya, kata Hariko, MBG dijalankan untuk menjawab persoalan tersebut.

“Makanya kita jalankan program Makan Bergizi Gratis ini, sehingga jadi layanan standar dasar pelayanan bagi masyarakat,” ucapnya.

Meski MBG dijalankan, Hariko mengatakan hal tersebut tidak mengganggu layanan lain.

Misalnya kesehjatan.

“Nah, semuanya prioritas, tidak ada yang tidak prioritas. Makanya tadi kesehatan juga sangat prioritas,” imbuhnya.

Hariko memberi gambaran, di era Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan pemeriksaan kesehatan gratis.

Menyasar 136 juta orang.

“Bayangkan di tahun 2025, 70 juta dapatkan layanan cek kesehatan gratis, sekarang sudah 100 juta orang dapatkan layanan cek kesehatan gratis. Targetnya 136 juta,” ucapnya.

Program semacam itu, menurutnya baru ada selama Indonesia berdiri.

“Silahkan cek, apakah pernah ada pemeriksaan kesehatan preventif yang sebesar ini sejak zamannya Bung Karno? Itu belum pernah,” ujarnya.

“Bukan hanya pengecekan kesehatannya yang gratis, tapi pengobatannya juga gratis pada 15 hari pertama,” sambung Hariko.

👇👇

Artikel terkait lainnya