Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Tokoh Yang Berani Pidato Singgung ‘Cari Muka’ Depan Presiden Prabowo

DEMOCRAZY.ID – Sosok K.H. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor mendadak jadi perbincangan hangat dan sorotan publik nasional.

K.H Hasan Abdullah Sahal sukses mencuri panggung saat menyampaikan pidato penuh keberanian, gelak tawa, sekaligus kritik menohok di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam rangka Peringatan 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Bukan sekadar pidato formal kenegaraan, Kiai Hasan tampil apa adanya.

Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, jenaka, tapi sarat makna membuat suasana hajatan satu abad pesantren tersebut hidup dan penuh warna.

Lantas, siapakah sebenarnya sosok ulama karismatik di balik pidato viral yang sukses membuat Presiden Prabowo hingga ribuan santri tertawa terbahak-bahak itu?

Berikut rekam jejak dan profil lengkap K.H. Hasan Abdullah Sahal.

Darah Pendiri Mengalir Deras

Lahir di desa Gontor pada 24 Mei 1947, K.H. Hasan Abdullah Sahal bukanlah orang sembarangan di lingkungan pesantren.

Hasan Abdullah Sahal merupakan putra keenam dari K.H. Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh legendaris Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gonto bersama K.H. Zainuddin Fananie dan K.H. Imam Zarkasyi.

Tumbuh di rahim kawah candradimuka pesantren, gemblengan karakter kepemimpinan dan keulamaan sudah mendarah daging dalam diri Kiai Hasan sejak kecil.

Perjalanan Pendidikan Lintas Benua

Kiai Hasan mengawali pendidikan dasarnya (SD) di Gontor dan lulus pada tahun 1959.

Menariknya, baru tiga bulan menjelang lulus SD, ia sudah diterima masuk di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor.

Setelah menamatkan KMI pada tahun 1965, jiwa akademisnya terus membara.

Ia melanjutkan studi ke Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD) sembari mendedikasikan diri mengajar di KMI selama dua setengah tahun.

Langkah kakinya kemudian melompat jauh ke luar negeri.

Pada tahun 1967, Kiai Hasan mendapat kesempatan emas memperdalam ilmu agama di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah.

Tak berhenti di situ, pada tahun 1992, ia kembali menimba ilmu dengan mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Rekam Jejak Pengabdian dan Organisasi

Sebagai figur sentral, estafet kepemimpinan Gontor dipegangnya sejak tahun 1985 hingga saat ini.

Ia awalnya ditunjuk sebagai pimpinan pondok bersama K.H. Shoiman Luqmanul Hakim dan K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Kini, ia memimpin Gontor bersama Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. K.H. Muhammad Akrim Mariyat.

Selain di Gontor, jari-tangan dingin Kiai Hasan juga melahirkan berbagai lembaga pendidikan Islam lainnya, di antaranya:

  • Pendiri Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo (1989).
  • Pendiri dan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogo (1992).
  • Dosen aktif di Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor sejak 1977.

Kiai Hasan juga aktif melanglang buana ke berbagai negara untuk misi dakwah dan pendidikan, mulai dari Brunei Darussalam, Malaysia, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Singapura, hingga kawasan Timur Tengah dan Eropa.

Di sela-sela kesibukannya, ia turut melahirkan sejumlah karya tulis dan buku pemikiran, seperti Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori’, Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, hingga trilogi Allamatnil Hayah (Kehidupan Mengajariku).

Aksi Berani dan Jenaka di Depan Presiden Prabowo

Sosok Kiai Hasan kembali menjadi pusat perhatian publik berkat momen-momen ikonik saat berpidato di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

Ada beberapa poin keberanian dan gaya khas yang membuatnya dipuji banyak pihak:

1. Siap Didemo Jika Hidup Mewah: Dengan tegas dan tanpa ragu, Kiai Hasan menyatakan siap dikritik, diprotes, bahkan didemo oleh santrinya sendiri jika fasilitas, makanan, pakaian, atau gaya hidupnya kedapatan lebih mewah daripada para santrinya.

2. Sentilan “Cari Muka”: Di hadapan Kepala Negara dan para pejabat, Kiai Hasan melontarkan selorohan menggelitik soal fenomena orang-orang yang gemar mengejar ijazah, jabatan, uang, nama, hingga sindiran telak tentang fenomena “cari muka” secara instan, yang langsung disambut tawa lepas hadirin.

3. Gaya “Sorry Ye”: Sambil berseloroh meminta izin kepada Presiden Prabowo menggunakan kalimat santai “Sorry ye”, Kiai Hasan menegaskan komitmen independensi pesantren.

Ia menekankan bahwa Gontor konsisten memilih jalur pendidikan moral murni untuk menempa kemandirian bangsa tanpa bergantung pada cara-cara instan.

Kombinasi antara ketegasan prinsip pesantren, keluasan ilmu, dan balutan humor cerdas inilah yang membuat K.H. Hasan Abdullah Sahal disegani, tidak hanya oleh santri dan alumni Gontor, tetapi juga oleh para pemimpin negeri.

Artikel terkait lainnya