Said Didu Bongkar Habis Safari Politik Jokowi: Disokong Oligarki Kelas Kakap Hingga Para Koruptor!

DEMOCRAZY.ID – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, melontarkan pernyataan bombastis terkait manuver politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.

Said menuding agenda kunjungan atau safari politik yang belakangan gencar dilakukan Jokowi ke berbagai daerah didanai oleh kekuatan gelap oligarki.

Tak main-main, Said menduga aliran dana safari tersebut juga melibatkan kelompok yang melanggar hukum. Ia menyebut adanya peran koruptor, pelaku judi online, penyelundup, hingga bandar narkoba di balik layar.

“Saya menduga betul akan bergabung solo oligarki parcok. Bergabung di situ pasti para koruptor, dan di Lampung sudah keliatan. Para pelaku judi online, para pelaku penyelundup, para bandar narkoba akan bergabung untuk membiayai. Dan saya nyatakan itu pasti bergabung,” ujar Said dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV, Jumat (3/7/2025).

Menurut analisis Said, langkah politik Jokowi ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan simbol perlawanan dan perebutan pengaruh antara pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan kekuatan oligarki yang ingin tetap eksis.

“Jokowi muncul sebagai simbol pelindung oligarki,” tegas Said.

Said menduga, kegelisahan di lingkaran Jokowi muncul lantaran arah kebijakan Presiden Prabowo yang tengah tancap gas memberantas korupsi.

Langkah tegas Prabowo ini dinilai mengancam “kenyamanan” dan kepentingan ekonomi para oligarki yang selama ini merasa terlindungi.

Lebih jauh, ia mengendus adanya konspirasi yang ia sebut sebagai ‘Geng Solo’—kelompok di lingkaran inti Jokowi—yang bekerja sama dengan oligarki dan partai cokelat (parcok) untuk mengacaukan stabilitas pemerintahan Prabowo.

Meski melontarkan tuduhan serius, Said Didu tidak merinci secara spesifik siapa saja sosok koruptor, bandar narkoba, maupun penyelundup yang ia maksud dalam skema tersebut.

Dalam pandangan Said, Jokowi adalah tipikal figur yang sulit menerima kenyataan kehilangan kekuasaan.

Ia menyinggung kembali memori publik saat wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode menggema di penghujung masa jabatan Jokowi.

Ia menyoroti bagaimana sejumlah pejabat publik secara terang-terangan menjadi corong wacana tersebut.

“Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, lalu La Nyalla Mattalitti ikut menggaungkan,” ucap Said mengenang momen tersebut.

Menariknya, Said justru memberikan apresiasi kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Megawati dinilai menjadi benteng demokrasi yang konsisten menolak perpanjangan masa jabatan, meskipun saat itu Jokowi masih berstatus sebagai kader partainya.

Atas dasar rekam jejak tersebut, Said mengaku telah memberikan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto sejak hari pertama pelantikan.

Ia meminta Prabowo waspada terhadap setiap manuver yang dilancarkan mantan Wali Kota Solo tersebut.

Bagi Said, peta konflik politik hari ini telah bergeser secara fundamental.

“Pertarungan sebenarnya bukan Prabowo lawan Anies. Tapi Prabowo lawan Jokowi,” pungkasnya tajam.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya