DEMOCRAZY.ID – Dinamika perjalanan politik Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka terus menjadi subjek analisis yang menarik bagi para pengamat tata negara maupun sosiolog politik.
Di balik posisinya saat ini sebagai orang nomor dua di Indonesia, publik dan para ahli disebut-sebut tengah membaca sebuah pola unik, yakni adanya ritme “akselerasi kilat” yang tidak biasa dalam rekam jejak kepemimpinannya.
Pandangan kritis tersebut diulas oleh pegiat media sosial sekaligus pengamat politik, Mazdjo Pray.
Ia menyoroti bagaimana transformasi Gibran berjalan begitu cepat—dari seorang pelaku usaha kuliner di daerah hingga melompat langsung ke episentrum kekuasaan nasional dalam waktu relatif singkat.
“Dulu dari anaknya pengusaha mebel, dari pengusaha pisang, dari pengusaha di daerah Solo, tiba-tiba jadi walikota, cepat,” ungkap Mazdjo dalam keterangannya di kanal YouTube YouthTV Indonesia, dikutip Selasa (30/6/2026).
Jika dirunut ke belakang, karier politik formal Gibran memang baru dimulai saat ia maju dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Solo tahun 2020.
Setelah memenangkan kursi Wali Kota Surakarta, ia tidak menghabiskan satu periode penuh kepemimpinannya di daerah sebelum akhirnya diambil keputusan besar untuk melompat ke kontestasi Pilpres 2024 mendampingi Prabowo Subianto.
Langkah ekspres ini berhasil terwujud setelah adanya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang mengubah klausul batas usia pencalonan presiden dan wakil presiden.
“Lalu dari walikota ke panggung nasional. Mungkin pertama kali itu ada tuh walikota langsung jadi cawapres. Dari walikota ke panggung nasional cepat banget, terus menuju kursi wakil presiden,” jelas Mazdjo.
Kendati proses adaptasi regulasi tersebut sah di mata hukum tata negara, Mazdjo tak menampik bahwa realitas politik ini menyisakan catatan kritis tersendiri di ruang publik terkait aspek etika politik yang perdebatannya masih terasa hingga hari ini.
“Nyisakan kesesakan dada bagi orang-orang waras sampai hari ini. Bahkan hakim yang ikut memutuskannya pun kesannya menyesal, tapi itu baru belakangan ya,” sergahnya menambahkan sentilan satire.
Memasuki paruh awal jalannya roda pemerintahan saat ini, pola akselerasi tersebut dinilai sejumlah kalangan mulai kembali terbaca sebagai persiapan menyongsong Pilpres 2029.
Dorongan dari basis massa loyalis agar sang Wapres terus melaju di level tertinggi ditengarai semakin kuat.
Kondisi inilah yang melatarbelakangi munculnya berbagai spekulasi dari para analis politik mengenai instruksi dari Solo ke partai politik tertentu baru-baru ini.
Narasi dukungan “dua periode” ditafsirkan bukan sekadar komitmen politik biasa, melainkan strategi preventif dari faksi Solo untuk memastikan agar posisi Gibran tetap terkunci aman mendampingi Prabowo di periode mendatang.
Di sisi lain, lingkaran dalam mantan Presiden Jokowi membantah keras tudingan miring seputar adanya tekanan politik tersebut.
Pihak internal menegaskan bahwa hal tersebut murni sebagai komitmen mengawal stabilitas pemerintahan agar target-target besar negara bisa tercapai.
“Kepada kami beliau menyampaikan kok bahwa kita itu diminta untuk mengawal Pak Prabowo-Gibran ini, bahkan ya, bahkan, bahkan sampai dua periode. Jadi nggak ada itu fitnahan, fitnahan tentang bakal ada dua matahari. Matahari gimana bisa dua? Ada-ada aja,” ujar Ketua DPP PSI, Bestari Barus, saat menceritakan arahan langsung Jokowi di Solo beberapa waktu lalu.
Rivalitas senyap memperebutkan pengaruh politik antara faksi konsolidasi Istana dan kekuatan jaringan Solo diprediksi akan terus menghangat, menjadikan konstelasi politik nasional beberapa tahun ke depan berjalan sangat dinamis dan penuh kejutan.