DEMOCRAZY.ID – Kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang diyakini akan menjadi arena pertarungan politik yang unik sekaligus sengit.
Pertarungan tersebut diprediksi mempertemukan pengaruh dua tokoh sentral, yakni Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Namun, rivalitas ini dipastikan tidak terjadi secara harfiah di atas kertas suara, melainkan adu kuat pengaruh politik, jaringan, dan kendaraan parpol di belakang layar antar-kedua kubu.
Menariknya, di tengah potensi benturan dua kekuatan raksasa ini, peluang lahirnya kekuatan alternatif kini mulai mengemuka.
Pegiat media sosial sekaligus pengamat politik, Mazdjo Pray, menilai situasi dilematis ini justru membuka karpet merah bagi munculnya sosok “kuda hitam” yang bisa menjadi penengah sekaligus motor dari poros ketiga.
“Tapi justru di tengah dua matahari yang saling silau ini, sejarah Konoha ngajarin satu hal: selalu ada celah buat kuda hitam. Sebuah poros tengah yang muncul dari kejenuhan sama drama-drama, misalnya soal dinasti dan drama konsolidasi,” ungkap Mazdjo dalam keterangannya di kanal YouTube YouthTV Indonesia, dikutip Selasa (30/6/2026).
Menurut analisis Mazdjo, masyarakat pemilih yang mulai lelah menyaksikan ketegangan serta kompromi politik di tingkat elit antara kubu Prabowo dan Jokowi berpotensi besar akan mengalihkan dukungan mereka.
Titik jenuh inilah yang diprediksi akan mengkristal menjadi gelombang pencarian figur alternatif di luar lingkar kekuasaan saat ini.
“Publik yang capek sama dua-duanya diduga bakal nyari pintu ketiga. Dan di pintu ketiga itulah biasanya sejarah Konoha suka ngasih kejutan. Jadi menurut keyakinan saya, 2029 Prabowo melawan Jokowi, di tengah-tengahnya kemungkinan besar ada poros ketiga, poros tengah,” imbuhnya secara lugas.
Hadirnya poros tengah ini dinilai tidak hanya akan merusak kalkulasi politik di atas kertas milik kedua kubu, tetapi juga bisa memecah suara secara signifikan sehingga memaksa jalannya Pilpres 2029 berlangsung dalam dua putaran.
Prediksi mengenai pecahnya kongsi politik ini bukan tanpa alasan.
Hubungan antara Presiden Prabowo dan mantan Presiden Jokowi dikabarkan terus merenggang pasca-masa transisi pemerintahan berakhir.
Sejumlah laporan investigasi media nasional, termasuk majalah Tempo, sempat menguliti dinamika di balik layar yang menunjukkan bahwa hubungan kedua tokoh ini tidak lagi sehangat dulu.
Beberapa poin krusial yang mengindikasikan adanya “jarak” antara Istana dan Solo antara lain:
Pembatasan Akses Pertemuan: Jokowi dikabarkan sempat beberapa kali mengajukan permohonan untuk bertemu langsung dengan Prabowo, namun ruang pertemuan tersebut diduga dibatasi secara ketat oleh tim kepresidenan.
Absen di Acara Kenegaraan: Indikasi keretakan yang paling kasat mata terjadi pada awal Juni lalu, di mana nama Jokowi secara mengejutkan tidak masuk dalam daftar undangan resmi pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo.
Sengkarut hubungan yang mulai dingin ini dinilai menjadi katalis mempercepat reposisi partai politik.
Faksi-faksi di parlemen diprediksi akan mulai menghitung ulang arah angin politik demi mengamankan posisi, membuat wacana pembentukan poros ketiga di 2029 bukan lagi sekadar spekulasi kosong, melainkan sebuah keniscayaan politik yang patut diwaspadai.