DEMOCRAZY.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan proyek percontohan unggulan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kini tengah menuai kemandekan dan menjadi sorotan tajam dari media internasional.
Salah satunya datang dari media penyiaran asal Korea Selatan, OBS.
Media ini ikut menyoroti perkembangan program nasional ini.
Dalam laporannya, OBS menilai program tersebut sedang menghadapi krisis besar setelah berjalan selama sembilan bulan sejak pertama kali diluncurkan.
OBS menggarisbawahi bahwa program pemenuhan gizi yang menyasar anak-anak sekolah di Indonesia saat ini didera oleh rentetan kasus keracunan makanan massal yang terus bermunculan di berbagai wilayah.
Sorotan media asing ini berfokus pada kelemahan struktural yang terjadi di lapangan selama implementasi program berskala masif tersebut.
Menurut analisis yang disiarkan, OBS menyebutkan bahwa ada dua faktor utama yang memicu terjadinya krisis ini.
Petama, buruknya pengawasan manajemen. Sistem kontrol kualitas dari hulu ke hilir dinilai longgar, sehingga standardisasi kelayakan pangan gagal dipertahankan secara konsisten di tingkat penyedia dapur umum.
Kedua, kurangnya pengalaman pengelolaan. Eksekusi program berskala nasional yang dilakukan secara terburu-buru tanpa kesiapan infrastruktur logistik yang matang memicu celah besar dalam penanganan sanitasi dan higienitas makanan.
Dampak dari rentetan insiden keracunan massal yang disorot oleh media luar negeri ini pun kian menyudutkan manajemen pengelola, sekaligus memicu desakan publik di dalam negeri agar pemerintah segera melakukan evaluasi total dan perbaikan masif demi keselamatan para siswa penerima manfaat.
Sorotan dari media Korsel tersebut kini viral di media sosial dan langsung dibanjiri komentar dari warganet yang menyuarakan berbagai sudut pandang, mulai dari yang mengkritik hingga yang meminta evaluasi.
“Waduh, sampai masuk berita luar negeri begini penanganannya. Malu-maluin banget kalau masalah sanitasi dasar saja masih lolos pengawasan,” tulis akun @budi***.
“Dari awal memang kelihatan terlalu terburu-buru eksekusinya tanpa infrastruktur dapur umum yang tersertifikasi dengan baik. Nyawa anak-anak taruhannya, tolong segera dievaluasi!” ujar akun @siti_ra***.
“Niat programnya sebenarnya sangat bagus untuk gizi anak sekolah, tapi kalau manajemen di lapangannya amburadul begini malah jadi bumerang,” cuap lainnya.
Sumber: Fajar