Mengejutkan! Eks Ketua AJI Bongkar Fakta di Balik Polemik Gelar Adat: Jokowi Jadi Ketua Panitia Pemberian Gelarnya Sendiri di Lampung

DEMOCRAZY.ID – Lima perwakilan lima kerajaan adat besar di Provinsi Lampung menganugerahkan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Sabtu, (27/6/2026).

Pemberian gelar adat di kawasan cagar budaya Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, itu menandai rangkaian hari kedua dari agenda kunjungan tiga hari Jokowi di Lampung sejak Jumat.

Saat prosesi pemberian gelar, Jokowi menginjak kepala kerbau. Di kanan dan kirinya berdiri sejumlah tokoh Lampung.

Foto Jokowi menginjak kepala kerbau pun viral di media sosial.

Dikutip dari Tribun Lampung, gelar untuk Jokowi disebut sebagai penghormatan dan apresiasi masyarakat adat Lampung atas dedikasi serta kepemimpinan Jokowi selama dua periode.

Setelah menerima gelar, Jokowi langsung melanjutkan safari politiknya ke sejumlah wilayah kabupaten sekitar. Dia berterima kasih atas penganugerahan itu.

“Saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yang Mulia Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 beserta seluruh jajaran perangkat adat. Saya sangat menghargai dan sangat menghormati kebudayaan yang terus kita rawat dan pelihara bersama,” kata Jokowi, Sabtu.

Jokowi berharap budaya Lampung dan seluruh budaya Nusantara tetap dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

“Semoga kebudayaan ini terus diteruskan oleh anak cucu kita sehingga budaya Nusantara, budaya Lampung, dan budaya-budaya lainnya tetap lestari di tengah zaman yang semakin modern,” kata Jokowi.

Lukas Luwarso: Jokowi ketua panitia pemberian gelar

Lukas Luwarso, mantan Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) periode 1997-1999, mengklaim Jokowi menjadi ketua panitia pemberian gelarnya sendiri.

Menurut Lukas, para tokoh Lampung yang berdiri di samping Jokowi saat prosesi menginjak kerbau adalah orang-orang yang bermasalah.

Salah satu orang itu adalah mantan Bupati Way Kanan Zainudin Hasan. Dia pernah diperiksa dalam kasus dugaan mafia tanah.

“Kemudian, ada [mantan Bupati Tulang Bawang] Abdurrahmad Sarbini yang korupsi pengadaan kapal cepat Rp2,8 miliar, korupsi Gedung Islamic Center 17 miliar, korupsi pengadaan makan minum PNS Rp2,5 miliar,” ujar Lukas dalam siniar di kanal YouTube Forum Keadilan, Selasa, (30/6/2026).

“Itu beberapa orang yang problematik menjadi panitia lokal karena karena ketua panitianya Jokowi, dan dia yang impresario (menjadi penyelenggara). Dia menyediakan dana sekaligus mengatur detail-detail yang menodai tata adat itu, yaitu menginjak kepala kerbau.”

Dia menegaskan prosesi menginjak kerbau itu memang dilakukan atas inisiatif dia.

Menurut Lukas, berdasarkan referensi yang dia dapat, memang ada penyembelihan kerbau untuk upacara adat.

“Memotong kerbau atau kambing, tapi biasanya sudah dimakan bareng-bareng, kemudian kepala kambingnya ditaruh di mana gitu, bukan diinjak. Tidak ada presedennya. Ini baru pertama kali.”

Lukas menduga prosesi Jokowi menginjak kerbau itu merupakan pesan Jokowi kepada PDIP.

Jokowi sendiri pernah lama menjadi kader PDIP, tetapi dia dipecat pada akhir 2024 karena dianggap melangagr AD/ART PDIP.

“Karena sejak awal Jokowi mau mengampanyekan PSI, partai anaknya. Nah, PSI itu agar bisa muncul, dia harus menggerus dukungan, terutama ke PDIP. Karena apa? Secara ideologis Jokowi dulu diangkat PDIP, kader PDIP. Jokowi ingin mencuri dukungan PDIP itu di daerah-daerah,” ucap Lukas menjelaskan.

Menurut Lukas, kepala kerbau yang diinjak Jokowi dianalogikan sebagai kepala banteng. Jokowi, kata Lukas, menunjukkan bahwa dia ingin menginjak PDIP.

Di samping itu, Lukas menyinggung karnaval gajah yang dihadiri Jokowi, padahal tidak ada gajah yang dilibatkan.

Adapun hewan gajah saat ini digunakan sebagai logo PSI yang diketuai oleh Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi.

Dia mengimbau Jokowi agar menjelaskan yang sejujurnya tentang maksud menginjak kepala kerbau dan adanya karnaval gajah.

Tokoh adat jelaskan makna kepala kerbau diinjak

Tokoh Adat Lampung Pepadun dari Kedatun Keagungan, Suttan Seghayo Dipuncak Nur, Mawardi Harirama, mengungkap makna prosesi menginjak kepala kerbau.

Mawardi menjelaskan bahwa kerbau merupakan hewan peliharaan yang bernilai tinggi dalam tatanan masyarakat Lampung sejak masa lampau.

“Kerbau adalah hewan peliharaan masyarakat Lampung sejak lama yang menjadi aset ekonomi maupun untuk kegiatan pesta adat (Begawi),” ujar Mawardi, Senin, (29/6/2026).

Oleh karena itu, pemotongan kerbau menjadi tolak ukur tingginya status sosial seseorang di dalam adat Pepadun.

Menempatkan jari kaki di atas kepala kerbau, menurut Mawardi, membawa dua makna penting yang mendalam secara lahir dan batin.

“Menempatkan jari kaki di atas kerbau itu bermakna, secara lahir merupakan lambang status sosial yang tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, secara filosofi makna batin, Mawardi menyebut ritual imi bertujuan menghilangkan hawa binatang dalam jiwa agar hati menjadi bersih dalam menjalani setiap langkah kehidupan.

“Jadi tujuannya untuk menghilangkan sifat-sifat binatang dalam dirinya, seperti Sombong, iri dengki, tamak dan lain-lain, agar karya-karya menjadi baik dan berhasil,” ujarnya.

Mawardi menambahkan, bagi masyarakat yang mampu, setiap siklus penting kehidupan selalu ditandai dengan pemotongan hewan kerbau.

Tradisi ini muncul mulai dari selamatan kelahiran anak, perkawinan adat turun Mandi dan Temu Dilunjuk, yakni kedua mempelai dipertemukan kedua ibu jari kakinya di atas kerbau di atas Lunjuk Balagh, hingga kewajiban memotong kerbau dalam prosesi Begawi berikutnya seperti Cakak Pepadun.

Melalui landasan adat dan ritual penyucian jiwa tersebut, Kedatun Keagungan resmi menganugerahkan gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” kepada Jokowi.

Menurut Mawardi, pemberian gelar tertinggi ini didasarkan pada penilaian budaya yang matang atas dedikasi nyata Jokowi.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya