Detik-Detik Kabinet Ambyar: Ketika 14 Menteri Kesayangan Kompak Angkat Kaki dan Bikin Penguasa Orba Pasrah Menyerah

DEMOCRAZY.ID – Rabu, 20 Mei 1998, atmosfer di bilangan Senayan, Jakarta Pusat, terasa magis sekaligus mencekam. Gedung Kura-kura yang menjadi simbol sakral parlemen Indonesia tak lagi sunyi.

Ribuan mahasiswa dari berbagai belahan daerah telah merayap naik, menduduki atap gedung, membawa satu tuntutan saklek: reformasi total dan jatuhkan Soeharto.

Di saat Senayan memutih oleh jaket almamater, sebuah drama senyap dengan tensi tinggi justru sedang meletup di Istana Merdeka. Sembilan tokoh bangsa dikumpulkan oleh Soeharto.

Mereka adalah Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, Ali Yafie, Malik Fadjar, Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja, dan Ma’ruf Amin.

Yusril Ihza Mahendra pun menyelinap masuk ke dalam ruangan atas ajakan Nurcholish Madjid, yang yakin betul keahlian hukum tata negara milik Yusril akan sangat dibutuhkan.

Hari itu, Soeharto mencoba melempar kartu truf terakhirnya untuk meredam amarah rakyat, membentuk Komite Reformasi yang akan berjalan beriringan dengan Kabinet Reformasi.

Namun, kalkulasi politik Sang Jenderal Besar meleset.

Satu per satu tokoh yang hadir menolak halus tawaran menjadi anggota komite tersebut.

Bahkan ketika Soeharto menawar langsung Nurcholish Madjid atau Cak Nur untuk menjadi ketua maupun anggota, sang cendekiawan muslim tetap menggelengkan kepala.

Penolakan dari orang-orang kepercayaan ini menjadi pukulan telak yang meruntuhkan ego sang penguasa Orde Baru.

“Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tak lagi memercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur,” ucap Soeharto pasrah di hadapan para tamunya, sebagaimana dikutip Ahmad Gaus AF dalam buku Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner.

Pemberontakan di Gedung Bappenas dan Telepon Darurat Habibie

Roda kejatuhan Soeharto berputar kian kencang sore itu. Pukul 17.00 WIB, sebuah panggilan telepon masuk ke gawai Wakil Presiden B.J. Habibie dari Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita.

Kabar yang dibawa Ginandjar bak petir di siang bolong, dirinya bersama 13 menteri lainnya menyatakan mogok dan emoh duduk di kabinet baru bentukan Soeharto.

“Apakah Anda sudah membicarakan dengan Bapak Presiden?” tanya Habibie dengan nada cemas, seperti yang dikisahkannya dalam Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi.

Ginandjar menjawab lugas bahwa hal itu belum dibicarakan langsung, namun surat penolakan bersama sudah diteken di Gedung Bappenas dan dikirim ke Istana melalui putri tertua Pak Harto, Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut.

Mendengar konspirasi politik tersebut, Habibie bergerak cepat menemui Soeharto malam harinya untuk mengotak-atik personel kabinet yang rencananya diumumkan 21 Mei.

Dalam pertemuan itu, skenario awal sebenarnya masih longgar.

Soeharto berencana memanggil pimpinan DPR/MPR pada 23 Mei untuk mengajukan mundur, lalu menyerahkan takhta kepemimpinan kepada Habibie.

Guna menyelamatkan transisi, pada pukul 21.45 WIB, Habibie mengumpulkan 18 menteri Kabinet Pembangunan VII di rumah dinasnya di Kuningan, Jakarta Selatan. Debat kusir dan ketegangan pecah.

Habibie memohon agar Ginandjar Cs membatalkan niat mogok kerja mereka demi stabilitas negara.

Rapat satu jam itu berakhir buntu, namun menyepakati satu hal pasrah: susunan Kabinet Reformasi diterima sebagai kenyataan yang ada.

Telepon yang Ditolak dan Akhir Riuh di Kolam Senayan

Usai rapat bubar, kecemasan Habibie belum reda. Ia mencoba menghubungi Menteri Sekretaris Negara Saadillah Mursjid demi bisa berbicara langsung dengan Soeharto.

Namun, di ujung telepon, pintu komunikasi sudah dikunci rapat. Soeharto menolak bicara dengan wakilnya sendiri.

Melalui Saadillah, pesan dingin disampaikan: Sang Jenderal Besar mempercepat langkahnya.

Pengunduran diri yang semula dijadwalkan tanggal 23 Mei, dimajukan menjadi esok pagi, 21 Mei 1998.

“Saya sangat terkejut dan meminta agar segera dapat berbicara dengan Pak Harto. Permintaan tersebut tidak dapat dikabulkan,” tulis Habibie dalam memorinya.

Janji ajudan untuk mempertemukan mereka secara empat mata di Cendana keesokan paginya pun menguap begitu saja. Pertemuan itu tak pernah terjadi.

Kamis pagi, 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, di Ruang Credential Istana Merdeka, Soeharto akhirnya berdiri di depan mikrofon.

Dengan suara bergetar, ia mengakui kekalahannya di hadapan sejarah setelah Komite Reformasi layu sebelum berkembang.

“Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik,” ucap Soeharto menyudahi 32 tahun kekuasaannya.

Seketika itu juga, pekik takbir dan sorak-sorai kemenangan pecah, membahana dari Istana hingga ke Senayan.

Di Gedung DPR/MPR, ribuan mahasiswa merayakan runtuhnya rezim Orde Baru dengan suka cita, sebagian besar dari mereka langsung menceburkan diri ke dalam kolam kompleks parlemen.

Pendudukan gedung berakhir, dan Indonesia resmi memasuki fajar baru bernama Reformasi.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya