Misteri 28 Tahun Jatuhnya Orde Baru: Alasan Tersembunyi di Balik Keputusan Soeharto Tolak Kata ‘Mundur’ di Pidato Terakhirnya

DEMOCRAZY.ID – Tanggal 21 Mei 1998 selalu dikenang sebagai penanda runtuhnya rezim Orde Baru yang telah mencengkeram Indonesia selama 32 tahun.

Namun, di balik panggung besar Istana Merdeka tempat Presiden Soeharto mengumumkan kejatuhannya, tersimpan sebuah drama psikologis dan perdebatan hukum yang menegangkan antara Sang Jenderal Besar dengan sang penulis pidato kepercayaannya, Yusril Ihza Mahendra.

Kelihaian Yusril dalam merajut kata-kata politik sebenarnya bukan bakat alamiah semata.

Ia menempa ilmunya dari Profesor Usman Ralibi, seorang pakar komunikasi politik legendaris yang mengajarinya seni propaganda.

Dikutip dari Liputan 6 Petang SCTV, Sabtu (21/5/2016), Yusril pun menceritakan kembali ingatan kolektifnya mengenai detik-detik jatuhnya Soeharto.

Waktu seolah berputar mundur ke malam paling pekat di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pada 20 Mei 1998.

Malam itu, atmosfer di dalam rumah Soeharto begitu mencekam.

Gelombang unjuk rasa mahasiswa sudah mengepung jantung ibu kota, sementara di dalam kamarnya, Sang Bapak Pembangunan tampak gelisah dan kesepian.

Ia membutuhkan sebuah jalan keluar yang sah secara hukum karena situasi politik kian tak terkendali.

“Ya sudah, kalau begitu saya mundur saja besok. Kamu urus bagaimana cara saya berhenti,” ucap Soeharto pasrah, seperti ditirukan kembali oleh Yusril.

Mendengar perintah tersebut, Yusril bersama sejumlah orang lingkaran dalam langsung menggelar rapat kilat semalam suntuk.

Di bawah lampu temaram Cendana, jemari Yusril bergerak cepat menyusun draf skenario akhir kekuasaan Orde Baru.

Menariknya, sejak awal Soeharto menolak mentah-mentah penggunaan frasa “mengundurkan diri”.

Secara taktis dan demi keamanan hukum, Soeharto lebih memilih kata “berhenti”.

Baginya, jika ia menggunakan kata “mundur” dan mengajukannya kepada MPR, lalu lembaga itu menolaknya dalam sidang, maka nasib Indonesia akan berada di ujung tanduk.

“Kondisi selanjutnya tak terprediksi,” kenang Yusril.

Ketegangan di Atas Aspal Menuju Istana

Matahari pagi 21 Mei 1998 terbit dengan membawa ketegangan baru.

Saat rombongan bersiap membelah jalanan dari Cendana menuju Istana Negara, Soeharto mendadak membaca kembali teks yang disusun Yusril dan merasa ada sesuatu yang kurang.

Ia meminta Yusril menambahkan satu kalimat tegas: “Kabinet dinyatakan demisioner.”

Sebuah frasa hukum yang berarti para menteri kehilangan kekuasaannya, namun tetap bekerja secara administratif sampai presiden baru membentuk kabinet anyar.

Mendengar permintaan mendadak itu, Yusril justru terdiam dan ragu.

Di matanya sebagai pakar hukum, kalimat itu berbahaya bagi posisi B.J. Habibie yang saat itu menjabat Wakil Presiden.

Yusril menilai Habibie seharusnya bisa langsung melanjutkan kepemimpinan kabinet yang ada tanpa perlu dibubarkan sepihak.

Yusril memilih tidak bergerak dan mengabaikan perintah tersebut.

Namun, Soeharto bukanlah orang yang biasa didebat ketika keputusannya sudah bulat.

Melihat sang penulis pidato termangu, ego sang penguasa terusik.

“Kalau tak mau tulis ‘demisioner’, sini saya sendiri yang tulis,” sergah Soeharto dingin.

Seketika itu juga, Soeharto merebut pulpen dari genggaman tangan Yusril.

Dengan guratan tangannya sendiri, ia menambahkan kalimat pembubaran kabinet itu di atas kertas, sebelum melangkah tegas menuju Istana untuk membacakannya di hadapan kilatan kamera yang mengubah jalannya sejarah bangsa.

Sumber: Liputan6

Artikel terkait lainnya