DEMOCRAZY.ID – Kondisi ratusan relawan yang dipulangkan oleh Israel sangat mengenaskan. Para relawan mengalami luka memar hingga terbakar akibat disetrum listrik.
Kondisi para relawan internasional termasuk yang berasal dari Indonesia dibagikan akun X Global Sumud Flotilla hingga akun pemerintah Palestina sesaat para relawan tiba di Turki Kamis (21/5/2026).
Dari video yang dibagikan terlihat para relawan terbaring lemah. Beberapa di antaranya terlihat terluka mulai dari memar hingga luka terbakar.
Sementara itu kondisi 9 WNI yang sudah tiba di Istanbul, Turki, juga tidak jauh berbeda.
“Welcome to Israel Terror” https://t.co/KYpAkxIc6x pic.twitter.com/RebuAHg0GG
Baca Juga— State of Palestine (@Palestine_UN) May 21, 2026
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 sudah tiba di Istanbul, Turki, setelah sempat ditangkap oleh militer Israel di perairan Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026).
Ketibaan sembilan WNI disambut oleh Kepala Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Istanbul, Darianto Harsono.
İşgalci İsrail’in bilerek defalarca plastik mermi sıktığı Sumud aktivistinin son hali bu. pic.twitter.com/rPc26kZCwe
— Said Ercan 🇹🇷 🌍 (@saidercan) May 21, 2026
Para WNI yang terdiri dari empat jurnalis dan lima relawan ini juga sempat melakukan video call dengan Menteri Luar Negeri RI Sugiono.
“Sembilan saudara – saudara kita yang tergabung dalam GSF telah bersama kami dalam kondisi sehat walafiat,” kata Darianto, Jumat (22/5/2026).
Dalam kesempatan itu Darianto mengungkap berdasarkan keterangan dari para WNI, mereka mengalami tindakan kekerasan dari otoritas Israel selama penahanan di Pelabuhan Ashdod dan detensi imigrasi Israel.
Tindakan kekerasan itu berupa pemukulan hingga setrum listrik.
“Mereka selama tiga empat hari mengalami kekerasan fisik, ada yang ditendang, dipukul ataupun disetrum,” jelasnya.
Menlu RI Sugiono menyampaikan Pemerintah RI selanjutnya akan berupaya memastikan proses repatriasi para WNI berjalan lancar dan aman hingga mereka tiba di tanah air.
Pemerintah Indonesia akan terus memastikan proses pemulangan seluruh WNI ke tanah air berjalan dengan lancar dan dapat tiba kembali dengan selamat dan sesegera mungkin,” kata Sugiono.
Sementara itu Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah menyampaikan bahwa kepulangan para WNI ke tanah air bergantung pada seberapa lama proses administrasi di Istanbul.
Mereka akan segera diterbangkan kembali ke Jakarta jika seluruh proses di Istanbul telah selesai.
“Untuk waktu kepulangan ke tanah air masih menunggu proses di Istanbul, yang pasti akan segera dipulangkan setelah prosesnya selesai,” kata Heni.
Jurnalis TV Tempo, Andre Prasetyo, mengungkap pengalaman mencekam yang dialami para aktivis kemanusiaan dalam rombongan Global Sumud Flotilla setelah kapal mereka diintersep oleh tentara Israel di perairan menuju Gaza.
Alih-alih mendapat perlakuan layak sebagaimana disampaikan aparat saat penangkapan, para aktivis justru disebut mengalami tindakan yang tidak manusiawi setibanya di Pelabuhan Ashdod.
Dalam kesaksiannya, Andre menggambarkan bagaimana situasi berubah drastis setelah proses intersep dilakukan.
Pada awalnya, tentara Israel disebut mencoba menenangkan para penumpang kapal dengan mengatakan bahwa seluruh situasi berada dalam kendali.
“Pas di-intersep, mereka tuh kayak malaikat. Bilang ‘everything is okay, it’s fine’,” ujar Andre saat menceritakan kembali detik-detik penangkapan tersebut.
Namun, suasana yang semula tampak tenang berubah menjadi pengalaman traumatis ketika para aktivis mulai dipindahkan dan menjalani proses penahanan.
Andre mengaku melihat dan merasakan langsung perlakuan keras yang diduga dilakukan aparat terhadap para peserta misi kemanusiaan.
Ia menuturkan, tangan para aktivis diikat terlalu kencang menggunakan kabel ties hingga menyebabkan rasa sakit hebat.
Dalam beberapa kasus, ikatan itu bahkan membuat aliran darah terganggu.
“Ditalinya kencang sekali sampai tangan mati rasa. Ada yang hampir pingsan karena sirkulasi darahnya terganggu,” kata Andre.
Tidak hanya itu, Andre juga menyebut adanya tindakan kekerasan fisik selama proses penahanan berlangsung.
Pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi sejumlah aktivis yang sebelumnya berangkat dengan misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan bagi warga Gaza.
Kesaksian Andre menambah panjang daftar tudingan mengenai perlakuan aparat Israel terhadap relawan internasional yang berupaya menembus blokade Gaza melalui jalur laut.
Selama bertahun-tahun, misi kemanusiaan semacam flotilla kerap menghadapi pencegatan dengan alasan keamanan oleh otoritas Israel.
Di sisi lain, berbagai organisasi hak asasi manusia internasional terus menyoroti kondisi kemanusiaan di Gaza yang dinilai semakin memburuk akibat konflik berkepanjangan dan pembatasan akses bantuan.
Blokade yang berlangsung selama bertahun-tahun disebut telah memperparah penderitaan warga sipil, terutama perempuan dan anak-anak.
Andre menegaskan bahwa pengalaman yang dialaminya bersama para aktivis menjadi gambaran nyata tentang situasi yang menurutnya tidak boleh terus dibiarkan.
“Ini bukan cuma soal kami ditahan. Ini soal bagaimana kemanusiaan diperlakukan,” ujarnya.
Kesaksian tersebut kini memicu perhatian publik dan kembali menyoroti tuntutan komunitas internasional agar akses bantuan kemanusiaan ke Gaza dibuka serta perlindungan terhadap relawan dan jurnalis internasional dijamin sesuai hukum internasional.
Sumber: Tribun