DEMOCRAZY.ID – Popularitas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini tengah berada di titik nadir.
Sentimen negatif publik Negeri Paman Sam melonjak tajam seiring dengan kebijakan ekonomi yang dianggap mencekik dan ekskalasi militer di Timur Tengah yang tak kunjung usai.
Berdasarkan hasil survei terbaru dari Forbes/HarrisX yang dirilis Rabu (6/5/2026), hampir 60 persen warga AS secara terang-terangan menyatakan tidak setuju dengan kebijakan ekonomi yang dijalankan Trump.
Data menunjukkan 58 persen responden tidak puas, sementara hanya 37 persen yang masih memberikan dukungan.
Ketidakpuasan ini berakar pada kebijakan tarif dan perdagangan Trump yang dinilai agresif.
Tercatat, 56 persen warga menolak kebijakan perdagangan luar negeri Sang Presiden, yang dituding menjadi pemicu ketidakpastian pasar global.
Tak hanya di sektor ekonomi, ‘tangan besi’ Trump dalam urusan militer juga mendapat perlawanan dari rakyatnya sendiri.
Survei tersebut mendapati hanya 37 persen responden yang mendukung operasi militer terhadap Iran.
Hal ini senada dengan jajak pendapat Washington Post-ABC News-Ipsos awal Mei lalu yang menyebut lebih dari 60 persen warga AS menganggap tindakan militer ke Iran sebagai sebuah kesalahan besar.
Publik nampaknya masih belum lupa pada peristiwa 28 Februari silam, saat serangan gabungan AS dan Israel ke sejumlah target di Iran memicu kerusakan masif dan jatuhnya korban sipil.
Eskalasi tersebut nyatanya membawa dampak domino yang memukul dompet warga AS sendiri.
Konflik yang membara di Teluk Persia telah melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, urat nadi pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Blokade dan gangguan keamanan di jalur strategis ini telah memicu lonjakan harga bahan bakar di pasar global, termasuk di stasiun pengisian bahan bakar di daratan Amerika.
Bagi warga AS, perang di Iran bukan lagi sekadar berita di televisi, melainkan beban nyata yang harus dibayar melalui kenaikan biaya hidup sehari-hari.
Inilah yang diyakini menjadi pemicu utama merosotnya tingkat persetujuan (approval rate) Trump secara keseluruhan ke angka 41 persen.
Di tengah tekanan publik, Gedung Putih kini berupaya mencari jalan keluar.
Laporan Axios menyebutkan adanya harapan bagi Washington dan Teheran untuk segera menandatangani nota kesepahaman (MoU) guna mengakhiri konflik.
Namun, karakter Trump yang fluktuatif kembali terlihat saat ia menyatakan bahwa pembicaraan negosiasi langsung dengan Iran masih ‘terlalu dini’.
Padahal, kegagalan pembicaraan lanjutan di Islamabad setelah gencatan senjata April lalu telah memperpanjang ketidakpastian.
Trump kini hanya memberikan waktu bagi Iran untuk menyusun ‘proposal bersama’, sementara rakyat Amerika Serikat mulai kehilangan kesabaran terhadap kebijakan luar negeri yang dinilai kontraproduktif tersebut.
Survei Forbes/HarrisX ini dilakukan terhadap 2.512 orang dewasa di seluruh AS dengan margin of error sebesar 1,95 persen.
Angka-angka ini menjadi sinyal kuning bagi Trump bahwa retorika ‘America First’ miliknya kini justru mulai ditinggalkan oleh rakyatnya sendiri.
Sumber: Inilah