DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diduga mengalami demensia dan penurunan fungsi lobus frontal di tengah kepemimpinan periode kedua.
Tuduhan itu dilayangkan oleh Mantan Pengacara Donald Trump Ty Cobb.
Ty Cobb pernah menjadi pengacara Donald Trump di periode pertama dari Juli 2017 hingga Mei 2018.
Cobb mengatakan saat pertama kali menjabat presiden AS, Trump sudah menunjukan gejala Demensia dan penurunan fungsi lobus frontal.
Namun saat itu, Trump kerap diperingatkan oleh para pembantunya mengenai kebijakan ekstrem atau saat mengambil keputusan yang tidak bijaksana atau ilegal.
Dan tampaknya saat itu masih berhasil.
Tetapi pada masa jabatan keduanya yang dimulai 2024 lalu, kata Cobb, Trump telah mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang terlalu takut untuk menantangnya sama sekali.
Sehingga saran dari pembantu terdekatnya saat ini tidak mempan lagi untuk memperingatkan sang presiden.
Ia berpendapat bahwa narsisisme Trump yang sudah lama ada telah memburuk akhir-akhir ini.
“Narsisisme selalu menjadi masalah baginya, tetapi tanpa kendali impuls yang diberikan oleh lobus frontal, hal itu telah lepas kendali dengan dahsyat. Itulah sebabnya kita melihat balas dendam, korupsi, delusi kebesaran, dan [dugaan] penyalahgunaan kekuasaan,” katanya.
Dimuat situs resmi National Library of Medicine, Sindrom lobus frontal menggambarkan serangkaian gangguan kognitif, perilaku, emosional, dan motivasi yang diakibatkan oleh disfungsi jaringan frontal-subkortikal, khususnya korteks prefrontal.
Bukan hanya lesi tunggal, sindrom ini mencerminkan gangguan sirkuit yang mengatur fungsi eksekutif, pengendalian impuls, perilaku sosial, dan aktivitas yang berorientasi pada tujuan.
Penyebab umum meliputi cedera otak traumatis, penyakit serebrovaskular, gangguan neurodegeneratif, tumor, infeksi, dan cedera metabolik atau toksik.
Manifestasi klinis bervariasi tergantung pada keterlibatan sirkuit dan dapat mencakup disinhibisi, apati, gangguan penilaian, disfungsi eksekutif, dan perubahan kepribadian yang secara signifikan memengaruhi fungsi dan hubungan sehari-hari.
Kegiatan ini meninjau subdivisi korteks prefrontal, sirkuit frontal-subkortikal, dan mekanisme pemutusan jaringan.
Kegiatan ini menekankan pengenalan, evaluasi diagnostik yang tepat dengan pencitraan saraf dan pengujian neuropsikologis, serta strategi manajemen, termasuk rehabilitasi, optimalisasi pengobatan, dan dukungan pengasuh, untuk meningkatkan hasil pasien dan mengkoordinasikan perawatan.
Sindrom lobus frontal ditandai dengan gangguan fungsi eksekutif, perilaku, emosi, motivasi, dan kepribadian yang diakibatkan oleh kerusakan pada lobus frontal, khususnya korteks prefrontal dan jaringan saraf terkaitnya.
Sumber: Tribun