NGERI! Kapal Tanker Dibajak di Somalia, 4 WNI Jadi Tawanan

DEMOCRAZY.ID – Aksi pembajakan kapal tanker Honour 25 di pesisir Somalia mengancam ketersediaan energi nasional dan memperparah inflasi harga bahan bakar.

Insiden ini menandai kerentanan jalur perdagangan maritim di Samudra Hindia yang sebelumnya sempat dinyatakan aman dari gangguan bajak laut.

Dikutip dari BBC, keberhasilan enam pria bersenjata menguasai kapal bermuatan minyak ini menjadi alarm keras bagi otoritas keamanan internasional di wilayah tersebut.

Kapal yang mengangkut belasan ribu barel minyak tersebut kini berada di bawah kendali penuh kelompok kriminal bersenjata.

Situasi ini diprediksi akan mencekik ekonomi warga Mogadishu yang mulai kesulitan mengakses bahan bakar minyak dengan harga terjangkau.

Muatan sebanyak 18.500 barel minyak di atas kapal tersebut seharusnya menjadi tumpuan stok energi bagi ibu kota Somalia.

Data pelayaran menunjukkan Honour 25 sempat melintasi Selat Hormuz sebelum akhirnya memutar arah menuju target tujuan di Mogadishu.

Perjalanan yang dimulai dari pelabuhan Berbera sejak Februari lalu kini berakhir di tangan pembajak yang mencegat kapal tersebut.

Kenaikan harga bahan bakar di Mogadishu yang mencapai tiga kali lipat kini menghadapi ketidakpastian baru akibat hilangnya pasokan ini.

Pasokan energi yang tersandera memperburuk kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sudah tertekan oleh situasi geopolitik di kawasan tersebut.

Terdapat 17 kru kapal dari berbagai negara, termasuk empat warga negara Indonesia, yang kini berada dalam situasi berbahaya.

Kelompok pembajak dilaporkan telah menambah personel mereka saat kapal bersandar di dekat kota nelayan Xaafun dan Bander Beyla.

Hingga saat ini, belum ada tuntutan resmi yang disampaikan oleh para pelaku yang menguasai kapal tanker minyak tersebut.

Petugas keamanan dari wilayah otonom Puntland mengonfirmasi bahwa kapal Honour 25 disergap pada jarak sekitar 30 mil laut.

“Kapal itu, Honour 25, diserbu larut malam pada hari Rabu oleh enam pria bersenjata, ketika berada sekitar 30 mil laut di lepas pantai,” kata pejabat keamanan.

Otoritas maritim internasional dan pemerintah setempat sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah penyelamatan para sandera.

Pasukan Angkatan Laut Eropa yang bertugas memantau keamanan di perairan Somalia juga terpantau masih melakukan koordinasi internal.

“Kapal itu membawa 18.500 barel minyak,” ujar pejabat keamanan dari wilayah semi-otonom Puntland di Somalia kepada BBC.

Ketidakhadiran pernyataan resmi dari pemerintah Somalia menambah kekhawatiran keluarga kru kapal yang berasal dari Pakistan hingga Myanmar.

Belum diketahui secara pasti bagaimana para pembajak tersebut mampu menembus sistem keamanan kapal tanker yang cukup besar itu.

Setelah sempat mereda selama tiga tahun terakhir, aksi pembajakan di wilayah Samudra Hindia kembali menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Jalur perdagangan ini sempat dianggap bersih dari aktivitas kriminal bersenjata setelah intervensi militer internasional besar-besaran beberapa tahun silam.

Namun, kembalinya pembajakan terhadap kapal tanker minyak seperti Honour 25 menunjukkan bahwa stabilitas keamanan maritim di lepas pantai Somalia masih sangat rapuh dan membutuhkan perhatian dunia.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya