Ratusan Orang India Ramai-Ramai Jadi Warga Negara Israel, Ada Apa?

DEMOCRAZY.ID – Gelombang pertama dari komunitas Yahudi Bnei Menashe asal India telah resmi mendarat di Israel pada 24 April 2026.

Sebanyak 240 orang tiba sebagai pembuka dari inisiatif besar pemerintah yang diberi nama “Operasi Sayap Fajar”.

Program ini dirancang untuk memperkuat populasi dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja di wilayah permukiman, di tengah situasi geopolitik yang masih memanas.

Proyek ambisius ini didanai dengan anggaran sebesar 90 juta shekel atau sekitar Rp 334 miliar.

Pemerintah Israel menargetkan untuk mendatangkan setidaknya 1.200 warga negara India setiap tahunnya.

Jika berjalan sesuai rencana, pada tahun 2030 mendatang, diperkirakan akan ada 6.000 warga India yang bermigrasi ke Israel melalui jalur khusus ini.

Migrasi besar-besaran ini bukan tanpa alasan. Sejak blokade total dan konflik besar yang meletus pada Oktober 2023, Israel kehilangan akses terhadap ratusan ribu pekerja asal Palestina.

Selama ini, para pekerja dari Tepi Barat dan Gaza menjadi tulang punggung di berbagai sektor vital, namun izin kerja mereka dicabut total sebagai buntut dari situasi keamanan dan perang di Gaza.

Para pendatang baru dari India ini mengklaim sebagai keturunan dari “suku yang hilang”.

Agar bisa mendapatkan kewarganegaraan resmi melalui Undang-Undang Kepulangan (Law of Return), mereka diwajibkan menjalani proses konversi agama Ortodoks.

“Langkah ini menuai sorotan karena di saat yang sama, pengungsi Palestina tetap dilarang oleh hukum Israel untuk kembali ke tanah kelahiran mereka,” tulis The Cradle, Sabtu (25/4/2026).

Pemerintah Israel bergerak cepat dengan menjadwalkan penerbangan lanjutan dalam beberapa minggu ke depan.

Sekitar 600 imigran tambahan diperkirakan akan menyusul dalam tiga gelombang pengiriman.

Hal ini menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan pemerintah untuk menstabilkan kondisi ekonomi yang sempat goyang akibat kekurangan tenaga kerja manusia.

Sebagian besar dari mereka yang baru tiba akan ditempatkan di pusat penyerapan di wilayah Nof HaGalil.

Di sana, mereka akan bergabung dengan kerabat yang sudah lebih dulu pindah ke Israel.

Fokus utama dari penempatan ini adalah untuk mengisi kesenjangan tenaga kerja di sektor-sektor kasar yang sebelumnya didominasi oleh warga Palestina.

Data menunjukkan bahwa sebelum konflik 2023, warga Palestina menyumbang hampir 30 persen dari total tenaga kerja di sektor konstruksi.

Lebih dari 100.000 pekerja menggantungkan hidup mereka pada proyek-proyek bangunan dan zona industri di wilayah pendudukan.

Namun, posisi mereka kini secara sistematis mulai digantikan oleh pekerja asing, terutama dari India.

Hingga pertengahan 2025 saja, sudah ada lebih dari 20.000 pekerja India yang didatangkan untuk bekerja di sektor konstruksi.

Tren ini semakin kuat setelah adanya perjanjian resmi antara India dan Israel pada Februari 2026 yang menargetkan tambahan hingga 50.000 pekerja migran dalam lima tahun ke depan.

Transformasi demografi pekerja ini pun diprediksi akan mengubah wajah industri di Israel secara permanen.

Sumber: BeritaSatu

Artikel terkait lainnya