DEMOCRAZY.ID – Jenderal Wesley Clark, mantan Panglima Tertinggi NATO, menyebut Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara terkuat di dunia pada akhir abad ke-21.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara bersama ekonom dan pengusaha Indonesia Gita Wirjawan yang tayang di kanal YouTube-nya pada Rabu (22/4/2026).
“Indonesia memiliki lokasi yang unik, sumber daya alam, dan populasi termuda di kawasan. Ini benar-benar matang untuk tumbuh secara eksplosif. Yang dibutuhkan hanyalah kepemimpinan yang tepat dan kesempatan yang tepat,” ujar Clark.
Clark tidak menampik kontradiksi citra Amerika Serikat di mata dunia.
Ia mengakui bahwa negara adidaya itu dikenal sebagai stabilisator global, namun sekaligus tercatat sebagai salah satu negara yang paling sering terlibat konflik bersenjata sepanjang sejarahnya.
“Reputasi itu tidak datang dari rakyat kebanyakan Amerika. Itu datang dari kelompok orang-orang kaya yang terus mendorong perluasan wilayah dan kekuasaan,” katanya.
Ia menelusuri jejak ekspansi Amerika mulai dari perang melawan Meksiko, aneksasi Filipina, hingga intervensi di Amerika Tengah demi kepentingan korporasi seperti United Fruit Company.
Merespons pertanyaan mengapa Indonesia kalah bersaing dengan Singapura dalam menarik modal Amerika, Clark menyebut dua akar masalah utama: lemahnya kepastian hukum dan rendahnya kemudahan berusaha.
“Ini soal transparansi pengambilan keputusan, kemudahan membuka usaha, kepastian kepemilikan properti, dan pada akhirnya soal supremasi hukum,” jelasnya.
Namun ia meyakini masalah ini akan teratasi seiring besarnya potensi kekayaan Indonesia yang akan menarik dunia luar untuk menuntut perbaikan tersebut.
Clark juga menyinggung risiko nilai tukar sebagai hambatan nyata bagi investor Amerika.
“Anda bisa meraup keuntungan 30 persen di Indonesia, tapi jika rupiah melemah, banyak keuntungan itu lenyap saat Anda repatriasi modal,” ujarnya.
Dalam sesi yang lebih filosofis, Clark menyoroti bahaya konflik berbasis agama.
“Betapa bodohnya membunuh orang karena perbedaan agama. Itu terjadi berulang kali sepanjang sejarah. Sudah saatnya berhenti,” tegasnya.
Terkait proliferasi nuklir, ia bersikap realistis namun tidak pesimis. Senjata nuklir kemungkinan akan terus menyebar, namun tidak berarti akan digunakan.
“Kita tidak akan mengalami perang nuklir. Umat manusia harus belajar bergulat dengan dilema mereka sendiri. Tidak ada jalan lari dari itu,” katanya.
Soal NATO, Clark menegaskan aliansi itu akan bertahan meski menghadapi tekanan dari kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai melemahkan komitmen Amerika terhadap pakta pertahanan tersebut.
“NATO telah melewati krisis demi krisis. Ia akan melewati ini juga,” ujarnya.
Untuk mengakhiri perang di Ukraina, Clark menyebut syarat yang tidak bisa ditawar: Rusia harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah Ukraina dan mengembalikan anak-anak yang telah diculik serta “dicuci otak” agar merasa sebagai orang Rusia.
Wesley Clark adalah jenderal bintang empat Angkatan Darat Amerika Serikat yang mengabdikan 34 tahun dinas di bawah delapan presiden, dari era Perang Dingin hingga konflik Balkan.
Ia menjabat sebagai Supreme Allied Commander NATO dan memimpin pasukan NATO dalam periode penting pasca-Perang Dingin.
Kariernya merefleksikan pengalaman panjang dalam bidang strategi militer, kepemimpinan politik, dan pembentukan kekuatan Amerika modern.
Sumber: JakartaSatu