DEMOCRAZY.ID – Perang AS-Israel vs Iran sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Kondisi ini jelas mengguncang perekonomian dunia.
IMF di tengah kondisi sekarang dikabarkan memangkas proyeksi pertumbuhan global dari 3,3% menjadi 3,1%, dipicu gangguan energi dan penutupan jalur vital Selat Hormuz.
Ketegangan di kawasan Teluk merusak infrastruktur energi dan menghambat ekspor minyak, gas, hingga pupuk.
Namun di tengah tekanan tersebut, sejumlah sektor justru meraup keuntungan dari Perang AS-Iran.
Dilansir dari Soha, industri keuangan, pertahanan, hingga teknologi justru panen cuan di tengah konflik yang masih memanas ini.
Bank investasi di Wall Street mencatat lonjakan keuntungan berkat volatilitas pasar.
Volatilitas pasar merupakan tingkat naik-turunnya harga aset (seperti saham, mata uang, atau komoditas) dalam periode waktu tertentu.
Morgan Stanley membukukan laba 5,57 miliar dolar AS, sementara Goldman Sachs meraih 5,63 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026.
Kinerja positif juga ditunjukkan JPMorgan Chase yang mencatat laba 16,49 miliar dolar AS.
Aktivitas transaksi yang meningkat tajam dan restrukturisasi portofolio investor menjadi pendorong utama lonjakan tersebut.
Di sektor lain, industri dirgantara dan pertahanan mengalami lonjakan permintaan.
Peningkatan anggaran militer global, termasuk di negara-negara NATO, mendorong kebutuhan akan sistem senjata, drone, hingga rudal.
Indeks MSCI World Aerospace and Defence mencatat keuntungan 3,2% secara tahunan, melampaui indeks global MSCI World.
Teknologi kecerdasan buatan (AI) juga tetap melesat meski dunia dilanda ketidakpastian.
Produsen chip seperti TSMC mencatat laba bersih 18,1 miliar dolar AS, naik 58% pada kuartal pertama 2026.
Lonjakan ekspor semikonduktor dari Asia Timur menjadi indikator kuat bahwa permintaan teknologi tetap tinggi.
Bahkan, perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic disebut tengah bersiap melantai di bursa tahun ini.
Di sisi energi, konflik justru mempercepat transisi ke sumber terbarukan.
International Energy Agency mencatat lebih dari 150 negara kini memiliki kebijakan untuk mendorong energi bersih dan nuklir.
Krisis ini menjadi pemicu bagi banyak negara untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Indeks S&P Global Clean Energy Transition bahkan melonjak lebih dari 70%, mencerminkan optimisme investor terhadap sektor ini.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa keuntungan sektor-sektor tersebut tidak menghapus risiko besar terhadap ekonomi global.
Ketidakpastian berkepanjangan justru bisa memperdalam krisis, terutama bagi negara dengan daya tahan ekonomi yang lemah.
Sumber: Suara