DEMOCRAZY.ID – Mesin pembunuh Tentara Zionis Israel terus menunjukkan kebiadabannya dengan melancarkan serangan mematikan yang merenggut nyawa warga sipil tak berdosa di seluruh wilayah pendudukan Palestina.
Serangan terkoordinasi antara kelompok pemukim ilegal Yahudi dan militer penjajah kini secara terang-terangan menargetkan fasilitas pendidikan anak di Tepi Barat dan area pesisir Jalur Gaza.
Pembantaian mengerikan ini kembali membuktikan bahwa kesepakatan gencatan senjata hanyalah ilusi semata ketika peluru angkatan laut merenggut nyawa seorang wanita Palestina dan serangan darat membantai pelajar di bawah umur.
Tragedi berdarah kembali menyelimuti desa al-Mughayyir yang terletak sekitar 25 kilometer di utara Ramallah pada Selasa waktu setempat.
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan bahwa dua warga sipil tewas terbunuh dan empat lainnya menderita luka tembak akibat kebrutalan pemukim ilegal Israel.
Kementerian Kesehatan Palestina mengonfirmasi bahwa kedua korban sipil yang tewas dalam insiden penyerangan di Tepi Barat tersebut masing-masing masih berusia 14 dan 32 tahun.
Kepala dewan lokal, Amin Abu Ulaya, membeberkan fakta bahwa para pemukim ekstremis bersama tentara Zionis dengan sengaja menyerbu masuk ke area desa.
Mereka secara sadis melepaskan tembakan peluru tajam ke arah sebuah sekolah yang dipenuhi oleh para siswa dan warga yang panik berhamburan ke lokasi kejadian.
Menanggapi pembantaian ini, pihak militer Israel berdalih bahwa pengerahan pasukan dilakukan setelah adanya laporan pelemparan batu terhadap kendaraan yang membawa warga sipil dan tentara cadangan mereka.
Militer penjajah tersebut mengeklaim bahwa tentaranya hanya berusaha membubarkan konfrontasi kekerasan dan menembak ke arah pihak yang mereka sebut sebagai tersangka.
Namun, Abu Ulaya menegaskan bahwa tindakan brutal tembakan mematikan tersebut secara langsung mengakibatkan terbunuhnya seorang pelajar dan satu warga tak bersenjata lainnya di tempat.
Kepanikan luar biasa melanda seluruh penjuru desa ketika para orang tua berlarian menerobos hujan peluru demi mencari anak-anak mereka yang terjebak di dalam sekolah.
Seorang penduduk al-Mughayyir berusia 57 tahun, Kathem Al-Haj-Ahmed, bersaksi bahwa gerombolan pemukim ilegal bersenjata tiba lebih dulu untuk menghancurkan sekolah desa tersebut.
Al-Haj-Ahmed dengan berani membongkar bahwa tentara dan pemukim Yahudi sebenarnya sedang bertukar peran dalam sebuah skenario sistematis untuk mengusir paksa warga pribumi dari tanah kelahiran mereka.
Sementara itu, kebiadaban serupa juga terus menghantui penduduk sipil yang terjebak di wilayah pesisir Jalur Gaza yang telah hancur lebur.
Petugas medis setempat melaporkan bahwa seorang wanita Palestina tewas mengenaskan setelah dihantam peluru dari kapal perang angkatan laut Israel di wilayah Beit Lahiya, utara Gaza.
Selain itu, serangan udara mematikan dari jet tempur Israel juga secara brutal membunuh seorang pria di sisi timur Khan Younis yang terletak di Gaza selatan.
Tiga warga sipil Palestina lainnya turut menjadi korban tewas akibat operasi pengeboman buta di wilayah Khan Younis yang berlangsung sepanjang malam.
Isak tangis keluarga pecah di rumah sakit Kota Gaza dan Khan Younis saat mereka harus mengucapkan selamat tinggal kepada jenazah kerabat yang telah dibalut kain kafan putih.
Latar Belakang Isu: Rentetan pembunuhan ini menjadi bukti nyata gagalnya kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat pada bulan Oktober lalu setelah dua tahun peperangan penuh.
Proses perdamaian tersebut mangkrak karena Israel bersikeras menolak menarik pasukannya dan justru mempertahankan kendali militer penjajahan atas lebih dari separuh wilayah Jalur Gaza.
Petugas medis lokal mencatat rekor memilukan di mana lebih dari 750 warga Palestina telah dibantai habis-habisan sejak kesepakatan damai semu itu mulai diberlakukan.
Di wilayah Tepi Barat, ekspansi pemukiman ilegal yang dikecam PBB justru terus melonjak tajam di bawah pemerintahan Israel saat ini, membawa 700.000 pemukim Yahudi untuk merampas tanah 2,7 juta warga Palestina.
Sumber: Suara