DEMOCRAZY.ID – Panggung hukum Indonesia kembali memanas. Pakar telematika yang dikenal vokal, Roy Suryo, baru saja melontarkan pernyataan yang membuat publik bertanya-tanya.
Di saat banyak pihak memilih jalan pintas melalui Restorative Justice (RJ) untuk mengakhiri perkara, Roy justru memilih jalan yang terjal dan penuh risiko.
Ada apa sebenarnya di balik sikap keras tersebut? Mengapa ia begitu yakin menolak perdamaian?
Bukan Roy Suryo namanya jika tidak memberikan pernyataan yang tajam.
Saat ditanya mengenai kemungkinan mengambil jalur damai demi menghentikan proses hukum, ia memberikan jawaban yang sangat telak.
Ia menegaskan bahwa integritasnya tidak bisa ditawar dengan sekadar kata “damai” di atas kertas.
Sekuku kecil hitam pun nggak ada sama sekali keinginan untuk minta Restorative Justice. Kita harus buktikan kebenaran ini di hadapan hukum yang adil. — Roy Suryo
Pernyataan ini bukan sekadar gertakan sambal. Kutipan tersebut kini menjadi simbol perlawanan Roy terhadap apa yang ia anggap sebagai ketidakadilan dalam proses yang ia jalani.
Banyak yang berspekulasi, mengapa Roy Suryo tidak mengambil “jalan aman”?
Ada tiga alasan kuat yang bisa dibaca dari sikapnya:
Pilihan Roy Suryo ini adalah sebuah pertaruhan besar. Jika ia gagal membuktikan argumennya di pengadilan, konsekuensi hukum yang menantinya tentu tidak ringan.
Namun, jika ia berhasil, ini akan menjadi kemenangan besar bagi kebebasan berpendapat dan integritas pakar di Indonesia.
Publik kini terbelah. Sebagian mendukung keberaniannya mempertahankan prinsip, sementara sebagian lagi menganggapnya terlalu berisiko.
Namun satu yang pasti: kasus ini akan menjadi jauh lebih seru untuk diikuti.
Sumber: Akurat