DEMOCRAZY.ID – Sudah hampir dua bulan sejak dunia dikejutkan oleh kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Namun, sebuah pemandangan ganjil kini menyelimuti Republik Islam tersebut.
Tujuh pekan telah berlalu, tetapi jenazah sang “Rahbar” belum juga diturunkan ke liang lahat.
Penundaan yang tidak lazim ini memicu spekulasi liar di tingkat global.
Mengapa negara yang dikenal dengan militansi dan penghormatan tinggi terhadap pemimpinnya ini justru seolah “ragu” untuk memberikan penghormatan terakhir?
Berdasarkan analisis intelijen dan laporan keamanan, alasan utama di balik penundaan ini adalah faktor keamanan yang sangat krusial.
Rezim Iran saat ini dilaporkan berada dalam kondisi traumatis pasca serangan yang menewaskan Khamenei.
Menggelar prosesi pemakaman besar-besaran di tengah kota dianggap sebagai tindakan “bunuh diri” politik maupun fisik.
Rezim saat ini terlalu takut dan terlalu lemah untuk mengambil risiko.
Ketidakmampuan mereka menggelar pemakaman selama berminggu-minggu mengungkapkan banyak hal tentang rapuhnya kendali mereka saat ini. — Behnam Taleblu, Pakar Keamanan Foundation for Defense of Democracies.
Teheran dihantui oleh dua skenario mengerikan: serangan udara presisi dari musuh bebuyutan mereka saat para pejabat tinggi berkumpul di satu titik pemakaman, atau ledakan amarah rakyat di jalanan yang bisa berubah menjadi revolusi domestik.
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan bungkamnya Mojtaba Khamenei, putra mendiang yang digadang-gadang sebagai penerus tahta.
Sejak kematian ayahnya, sosok Mojtaba nyaris hilang dari peredaran publik.
Hal ini memicu pertanyaan besar: Apakah Teheran sedang mengalami krisis kepemimpinan internal yang hebat sehingga urusan pemakaman pun terabaikan?
Berbeda jauh dengan tahun 1989 saat Ayatollah Khomeini wafat, di mana jutaan lautan manusia memadati jalanan dengan penuh duka.
Kali ini, Teheran justru terasa sunyi dan mencekam.
Meski sempat muncul laporan bahwa Khamenei akan dimakamkan di Mashhad—kota kelahirannya yang dianggap lebih aman karena jauh dari jangkauan operasional jet tempur lawan—namun rencana itu hingga kini masih membeku.
Pengumuman resmi mengenai jadwal prosesi tak kunjung keluar, sementara jenazah sang pemimpin tetap berada dalam penjagaan ketat di lokasi yang dirahasiakan.
Misteri tujuh pekan ini bukan sekadar soal keterlambatan ritual, melainkan simbol dari sebuah rezim yang sedang menahan napas di tengah kepungan ancaman luar dan dalam.
Dunia kini menunggu, kapankah sang pemimpin akan benar-benar diistirahatkan, ataukah penundaan ini adalah awal dari runtuhnya sebuah era di tanah Persia?
Sumber: Akurat