JAHAT! Israel Hancurkan Rumah-Rumah Lebanon, Buldoser Dibayar Berdasarkan Jumlah Bangunan Yang Dihancurkan

DEMOCRAZY.ID – Israel terus menyerang Lebanon bahkan setelah gencatan senjata disepakati antara kedua pihak pekan lalu.

Mengutip The Guardian, militer Israel (IDF) terus menghancurkan rumah-rumah dan bangunan lain, termasuk lembaga pendidikan, di desa-desa di Lebanon selatan.

Menurut Haaretz, tentara Israel menyewa kontraktor sipil untuk menghancurkan bangunan-bangunan tersebut.

Beberapa operator dibayar secara harian, sementara yang lain dibayar berdasarkan jumlah bangunan yang mereka hancurkan.

Sebanyak 20 ekskavator dilaporkan beroperasi di satu desa, menurut surat kabar Israel tersebut yang mengutip percakapan dengan komandan tentara.

Para akademisi menggambarkan operasi tersebut sebagai “domicide”, yakni strategi untuk secara sistematis menghancurkan perumahan sipil sehingga suatu wilayah menjadi tidak layak huni.

Bangunan-bangunan di desa, termasuk lembaga pendidikan dan rumah warga, dihancurkan setelah mendapat izin dalam kebijakan yang oleh IDF disebut sebagai “bajak uang”, menurut laporan tersebut.

Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel, sebelumnya mengatakan bahwa semua rumah di desa-desa dekat perbatasan Lebanon akan dihancurkan, mengikuti model Rafah dan Beit Hanoun di Gaza.

Ia juga menyatakan bahwa 600.000 penduduk Lebanon selatan tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka hingga warga Israel di wilayah perbatasan utara merasa aman.

Para akademisi mempertanyakan apakah banyak dari mereka akan dapat kembali, atau apakah rumah mereka masih akan ada.

JAHAT! Israel Hancurkan Rumah-Rumah Lebanon, Buldoser Dibayar Berdasarkan Jumlah Bangunan Yang Dihancurkan

Gencatan Senjata Israel-Lebanon

Pada Kamis (16/4/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 10 hari untuk membuka ruang negosiasi menuju kesepakatan keamanan dan perdamaian yang lebih permanen.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan, “Mungkin ini adalah hari bersejarah bagi Lebanon. Hal-hal baik sedang terjadi.”

Menurut pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada hari Kamis, berdasarkan ketentuan perjanjian gencatan senjata, Israel tetap memiliki hak untuk mengambil tindakan yang diperlukan guna membela diri, tanpa melakukan operasi militer ofensif.

Mengutip Al Jazeera, pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa Israel dapat menggunakan hak tersebut kapan saja terhadap serangan yang direncanakan, yang akan segera terjadi, atau yang sedang berlangsung.

“Hal ini tidak akan terhalang oleh penghentian permusuhan,” tambah pernyataan tersebut.

Trump mengatakan bahwa gencatan senjata 10 hari tersebut juga mencakup Hizbullah.

“Saya harap Hizbullah bertindak dengan baik dan benar selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen hebat bagi mereka jika mereka melakukannya,” tulis Trump.

“Tidak ada lagi pembunuhan. Akhirnya harus ada damai!”

Setelah gencatan senjata diumumkan pada Kamis, suara tembakan perayaan terdengar di Beirut saat kesepakatan mulai berlaku.

Namun, para pengungsi di pusat kota Beirut mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka tidak percaya Israel akan menepati gencatan senjata.

Mereka memilih menunggu sebelum kembali ke rumah mereka, itu pun jika rumah tersebut masih ada.

Pada Jumat (17/4/2026), militer Lebanon melaporkan sejumlah pelanggaran gencatan senjata, termasuk beberapa serangan Israel serta penembakan sporadis yang menargetkan sejumlah desa.

Dalam unggahan di X, militer Lebanon juga kembali mengimbau warga untuk berhati-hati saat kembali ke desa dan kota di wilayah selatan.

Media Lebanon 24 melaporkan bahwa pasukan Israel menembakkan senapan mesin dan artileri ke arah tim ambulans yang berafiliasi dengan Otoritas Kesehatan Islam di Kunin, Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan.

Media tersebut juga melaporkan adanya korban jiwa.

Gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah pada Kamis tersebut terjadi setelah gencatan senjata sebelumnya yang secara resmi berlaku sejak 27 November 2024.

Namun, PBB mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel sejak saat itu, serta ratusan korban jiwa di pihak Lebanon.

Israel berulang kali menyatakan kepada pemerintah Lebanon bahwa Hizbullah harus dilucuti senjatanya agar gencatan senjata dapat bertahan.

Hizbullah telah lama dianggap sebagai kekuatan militer terkuat di Lebanon, meskipun melemah akibat perang dengan Israel dan kehilangan sebagian besar pemimpinnya.

Namun, kelompok tersebut masih mempertahankan dukungan dari komunitas Syiah di Lebanon, yang menjadi basis utamanya.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya