Prabowo “Ngegas” ke Rusia Cari Minyak, Pulang Bawa Zonk: Diplomasi atau Dagelan Geopolitik?

Prabowo “Ngegas” ke Rusia Cari Minyak, Pulang Bawa Zonk Diplomasi atau Dagelan Geopolitik

Oleh: Suyoto Abadi

Sebuah kejadian di luar nalar akal waras dipertontonkan dalam pentas dunia tanpa filter normal dalam pergaulan politik global yang peka.

Presiden Prabowo dalam percaturan politik global di tengah ketegangan perang Iran dan Amerika/Isreal tampil tidak wajar dilihat, diamati dan dikaji dengan cara apapun dengan standar diplomasi model apapun, perilaku Presiden sangat diluar akal sehat atau tidak normal.

Yang muncul justru perilaku aneh dari para pembantunya melakukan upaya pembenaran logika setelah Prabowo menjadi little TRUMP lewat jalur BOP dan jual murah meriah Indonesia ke Amerika Serikat.

Dampak setelah kapal tangker Indonesia dilarang lewat oleh Iran di Selat Hormuz. Prabowo tiba-tiba banting setir melakukan kunjungan ke Rusia untuk mengais minyak.

Prabowo yang telah menjadi budak Trum dan Zionis yang sangat dibenci Rusia dan Cina, nekad mengais minyak ke Rusia.

Ya tidak mungkin mengemis ke Amerika sekalipun telah melelang Indonesia ke Amerika, ketika negara tersebut dalam bahaya kekurangan minyak untuk angkatan perangnya.

Putin adalah pemimpin besar penuh pengalaman menghadapi kepala negara bermuka dua.

Untung datang tanpa diundang tidak langsung diusir, Putin dengan raut muka kecut masih menerimanya dengan basa – basi yang hambar.

Siapa sebenarnya yang memainkan permainan badut bermuka dua ini tidak tahu diri. Gaya tipuan justru muncul bahwa Probowo dilaporkan sukses besar mendapatkan minyak dari Rusia.

Setolol ini bahwa info dunia terbuka, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Bapak Sergei Tolchenov buru-buru memberikan penjelasan dan memaparkan ada soal 3 ( tiga ) kendala ( masalah ) utama pembelian minyak dari Rusia.

Intinya hasil dari jalan-jalan ke Rusia adalah Zonk, dipukul Putin tidak ada diskon harga minyak untuk Indonesia.

Setelah gagal membujuk Putih tidak langsung pulang ikhtiar mandiri dari dalam negeri.

Selebrasi kegagalan diplomasi dengan Rusia tanpa diskon harga minyak, bukannya introspeksi diri, perbaiki orientasi geopolitik Indonesia.

Malah singgah di Paris, tiup lilin merayakan ultah seskab Teddy di negeri orang, hura-hura di tengah kegagalan negosiasi energi. Numpang pajak rakyat. Sungguh cerminan kekuasaan inkompetensi, rendah moral, minus empati.

Rakyat gelisah, resah, cemas hadapi efek geopolitik global yg sedemikian menyusahkan.

Presiden dan gerombolannya justru menikmati jalan jalan dengan uang rakyat untuk keperluan yg tidak diperlukan rakyat.

Hasil traveling, buang anggaran perjalanan puluhan miliar, pake acara singgah di Paris, rayakan ulang tahun menteri segala urusan Teddy di hotel ratusan juta.

Kena apa tidak traveling ke Solo saja sekalian ngobrol dengan guru pilitiknya Jokowi. Yang patut di duga Jokowi dan Prabowo mentalnya sama – sama sedang sakit.

Prabowo lupa, beberapa waktu lalu Putin baru saja Veto (tolak) resolusi DK PBB desak Iran buka Hormuz. Putin berada di pihak Iran.

Begitu kuat dukung Iran. Semua yg bersekutu, dekat dan dukung Amerika, termasuk Indonesia yg masih setia di BoP, terus perkuat kemitraan dgn Amerika, pasti dipukul Putin.

Datang ke Putin untuk minta bantu adalah langkah konyol dan sia-sia.

Selama orientasi geopolitik Indonesia masih jalan bareng Amerika-Israel, selama itu juga, diplomasi ke Putin tidak ada artinya.

Sudah tau begitu, masih saja datang ke Rusia menemui Putin, konyol semua berjalan diluar akal normal, Prabowo melakukan diplomasi buta.

Bagi para pengagum penjilatnya tetap mendapatkan pujian setinggi langit bahwa Prabowo is the best. ***

Artikel terkait lainnya