DEMOCRAZY.ID – Pernyataan mantan Kabareskrim Polri, Susno Duadji, menjadi sorotan publik setelah unggahannya di media sosial menyinggung kondisi ekonomi Indonesia yang disebut berpotensi dalam situasi “bahaya”.
Dalam unggahannya, Susno menyatakan bahwa jika data yang beredar benar, maka kondisi tersebut merupakan sinyal serius bagi perekonomian nasional.
Ia menegaskan bahwa dampak yang ditimbulkan bisa sangat mengerikan.
“Kalau data ini benar sudah jadi fakta maka ini tanda bahwa ekonomi kita dalam keadaan bahaya, dampaknya sangat mengerikan,” tulisnya, Kamis (9/6/2026).
Unggahan tersebut disertai gambar berisi sejumlah indikator ekonomi yang memicu kekhawatiran publik, di antaranya nilai tukar dolar AS yang disebut menembus Rp17.100, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.942, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun, serta sisa tabungan pemerintah di Bank Indonesia yang diklaim tinggal Rp120 triliun.
👇👇
Kalau data ini benar sudah jadi fakta maka ini tanda bhw ekonomi kita dalam keadaan bahaya , dampaknya sangat mengerikan ,, pic.twitter.com/V9UKohYfeN
— susno duadji (@susno2g) April 8, 2026
Pernyataan tersebut langsung memicu beragam reaksi dari warganet.
Sebagian menilai peringatan itu sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi global yang memang tengah bergejolak.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan validitas data yang beredar dan meminta klarifikasi dari otoritas terkait.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait angka-angka yang beredar dalam unggahan tersebut.
Namun, pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga meskipun menghadapi tekanan global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan dinamika pasar keuangan internasional.
Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya literasi publik dalam menyikapi informasi ekonomi yang beredar di media sosial, terutama yang berpotensi memicu kepanikan.
Sumber: MoneyTalk