Pakar Ungkap ‘Kejanggalan’ Keterlibatan BAIS TNI di Penyiraman Air Keras

DEMOCRAZY.ID – Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel masih merasa janggal dengan keterlibatan BAIS TNI dalam peristiwa teror penyiraman air keras aktivis KontraS Andrie Yunus.

Pasalnya apabila kasus kriminal terencana tersebut dilakukan oleh anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, pengerjaannya terlalu berantakan.

Pakar psikologi forensik lulusan Melbourne University itu menyoroti berantakannya jejak yang ditinggalkan oleh para eksekutor saat melakukan aksi teror penyiraman air keras tersebut.

Misalnya saja mulai dari tidak memakai sarung tangan, tidak pakai masker atau penutup wajah, hingga meninggalkan barang bukti di tempat kejadian perkara (TKP).

Menurut Reza Indragiri, hal itu terlihat janggal sebab yang dilibatkan seorang intelijen.

“Bisa lihat, ini orang katanya dari Bais (Badan Intelijen Strategis). Tapi betapa joroknya operasi mereka gitu. Enggak pakai tutup muka, enggak pakai sarung tangan, barang bukti dilempar begitu saja,” jelas Reza dihubungi Rabu (18/3/2026).

Maka Reza menduga, jangan-jangan operasi tersebut sengaja dibuat kotor agar mudah terungkap ke publik.

Tujuannya bisa saja untuk menyudutkan satu lembaga tertentu.

Dalam kriminologi kata Reza, hal itu disebut False Flag Operation atau Operasi bendera palsu.

False Flag Operation adalah tindakan rahasia—seringkali berupa kekerasan atau tindakan yang mengganggu—yang direkayasa oleh pemerintah, perusahaan, atau kelompok untuk membuat seolah-olah pihak lain yang bertanggung jawab, sehingga menyamarkan sumber sebenarnya.

Kata ini berasal dari peperangan laut, operasi ini dirancang untuk memanipulasi opini publik, membenarkan perang, atau menjebak musuh.

Reza melihat joroknya operasi teror terhadap Andrie Yunus seperti mengesankan agar pelaku bisa segera ditangkap sehingga sesuai dengan tujuan adanya teror tersebut.

“Dan sejak awal saya katakan bahwa dua orang ini menyerahkan diri saja. Itu eksplisit saya kemukakan bahwa dua orang ini seperti menyerahkan diri saja,”

“Kenapa? Karena kalian ini dipekerjakan agar kalian itu ditangkap,” tutur Master di bidang Psikologi Forensik itu.

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan dalam sebuah organisasi apalagi militer ada yang namanya Rouge Operation alias Operasi Merah.

Operasi Merah adalah kelompok sempalan yang melakukan operasi di luar garis komando, bahkan tanpa sepengetahuan struktur organisasi.

Reza pun tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa teror terhadap Andrie Yunus adalah Operasi Merah di tubuh BAIS TNI.

Dosen di bidang Kriminologi itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa ada petinggi TNI yang terlibat dalam Operasi Merah ini.

Namun pertanyaannya apakah aparat mampu mengusut kasus ini hingga ke petinggi TNI, Reza pun meyakini hal itu dapat terungkap.

“Saya ingat-ingat lagi, pada sekian banyak peristiwa, TNI punya kesanggupan menindak pelaku misconduct hingga ke level perwira tinggi. Ini kontras jika kita bandingkan dengan penanganan kasus Novel Baswedan, misalnya,” bebernya.

Diketahui terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus ternyata merupakan intelijen TNI.

Danpuspom TNI Mayjen TNI Yusri Nuryanto mengatakan bahwa pihaknya telah menangkap empat terduga pelaku penyiraman air keras aktivis Andrie Yunus pada Kamis (12/3/2026).

Selain pihak Kepolisian, TNI juga bergerak mengusut dugaan penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus.

Saat ini Polisi sendiri sudah menangkap dua terduga pelaku penyiraman air keras.

“Kami menduga, bahwa 2 orang yang tadi kami tunjukkan tersebut, dari satu data inisial BHC, dua inisial MAK,” ujar Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/3/2026).

Versi Polisi, terduga pelaku pertama berisial BHC. Sementara terduga pelaku kedua adalah MAK.

Selain Polisi, TNI juga melakukan pengungkapan para tersangka penyiraman air keras Andrie Yunus.

Saat ini TNI sudah menahan empat orang anggota yang diduga terlibat dalam penyerangan Andrie Yunus.

Empat anggota TNI yang diamankan berasal dari BAIS yakni Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW dan Serda ES.

BAIS adalah Badan Intelijen Strategis TNI.

BAIS adalah organisasi khusus di bawah Markas Besar TNI yang menyelenggarakan intelijen kemiliteran dan strategis pertahanan negara.

Badan ini dipimpin perwira tinggi bintang tiga, BAIS berfokus pada analisis, operasi intelijen, dan antisipasi ancaman luar maupun stabilitas internal bagi kedaulatan Indonesia

“Keempat yang diduga pelaku ini semuanya anggota dari Denma BAIS TNI. Jadi bukan dari satuan mana-mana tapi dari Denma BAIS TNI,” kata Yusri dalam konferensi pers di Mabes TNI, Jakarta, Rabu (18/3/2026).

Kata Yusri, keempatnya berasal dari TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

“Supaya enggak berkembang lagi, jadi AL dan AU ya,” ucapnya.

Kendati demikian, Yusri belum mengumumkan peran dan motif penyiraman air keras terhadap aktivis tersebut.

“Jadi kita masih mendalami motifnya,” tegas dia.

TNI juga belum mengungkapkan apakah ada aktor intelektual dalam kasus teror ini.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya