DEMOCRAZY.ID – Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, memberikan pencerahan penting terkait penggunaan kata “Israel” di dalam Alquran dan perbedaannya dengan entitas Negara Israel modern.
Penjelasan ini dinilai sangat krusial di tengah terus memanasnya eskalasi geopolitik serangan AS dan Israel ke Iran dan krisis kemanusiaan di Palestina pada awal 2026, agar umat Islam tidak keliru menafsirkan ayat suci dan mencampuradukkan urusan politik modern dengan sejarah kenabian.
Melalui potongan kajiannya yang viral di platform TikTok, Gus Baha menegaskan bahwa masyarakat harus cerdas membedakan antara “Bani Israel” (keturunan) pada masa lampau dengan nation-state (negara) Israel yang berideologi Zionis saat ini.
Menurutnya, kata “Israel” dalam Alquran sejatinya adalah bentuk pujian dan penghormatan.
“Berkali-kali saya ngaji bilang, Israel itu kalimat muthaffin, pujian. Sehingga Israel disebut wa annii fadhdhaltukum ‘alal ‘aalamiin (dan sungguh Aku telah melebihkan kamu atas umat-umat di dunia). Itu Israel yang bani, karena ada gennya nabi,” jelas Gus Baha dikutip dari akun @abahwinko, Rabu (4/3).
Lebih jauh, Gus Baha menggarisbawahi bahwa Negara Israel yang dideklarasikan pada 1948 dan menduduki wilayah Palestina saat ini adalah sebuah entitas politik atau negara.
Demografi penduduknya sangat heterogen dan sarat akan agenda politik sekuler.
“Kalau Israel yang sekarang itu nation, sebuah negara. Mereka ada yang Zionis, ada yang turunan Eropa, Amerika, terus Islamofobia. Itu beda Israel yang negara dengan Israel yang bani,” tegas pengasuh Pesantren Tahfidz LP3IA Rembang tersebut.
Ia mengingatkan bahwa “Israel” di dalam Alquran bukanlah nama sebuah wilayah kedaulatan atau negara bentukan politik, melainkan nama lain dari Nabi Yaqub AS.
Silsilah nasabnya sangat mulia, yakni Nabi Yaqub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim AS.
Oleh karena itu, sebutan Bani Israel merujuk murni pada anak turun atau garis keturunan para nabi tersebut.
Gus Baha juga memberikan konteks asbabun nuzul atau latar belakang sejarah mengapa Alquran sering menggunakan panggilan “Ya Bani Israel”.
Seruan (khitab) tersebut secara spesifik ditujukan kepada komunitas Yahudi yang mendiami kota Madinah pada zaman Nabi Muhammad SAW.
“Sehingga ketika Allah bilang Ya Bani Israel, itu khitab-nya pada penduduk Madinah. Kenapa? Karena penduduk Madinah zaman itu banyak yang keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam,” urainya.
Pemahaman sejarah dan tafsir nasab ini menjadi pengingat penting bagi publik.
Ketegangan politik global dan narasi kebencian terhadap tindakan militer Negara Israel modern tidak seharusnya membuat umat Islam salah kaprah dalam memahami teks-teks Alquran yang justru memuliakan keturunan para nabi pada masanya.
[VIDEO]
@abahwinko NGAJI GUS BAHA #gusbaha #pondokpesantrenputramulyaasik ♬ suara asli – abahwinko
Sumber: Inilah