DEMOCRAZY.ID – Pemimpin Besar Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan bom Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026) kemarin.
Ia gugur bersama beberapa anggota sanak familinya dan para pejabat tinggi negara dalam serangan bom kejutan pada pagi hari.
Kini kisah di balik serangan mematikan Israel tersebut, bagaimana badan intelijen Mossad bekerja untuk melacak lokasi Khamenei, diungkap sejumlah sumber internal Israel dan Amerika Serikat kepada The Financial Times.
Dua orang sumber bercerita, bertahun-tahun sebelum serangan itu dilancarkan Mossad sudah meretas nyaris semua kamera CCTV lalu-lintas di Teheran.
Termasuk di sekitar Jalan Pasteur, tempat Khamenei berkantor dan akhirnya menjadi lokasi pemimin 86 tahun itu tewas. Israel juga bisa mengakses menara-menara seluler di Teheran.
Uniknya data terpenting yang berhasil dirampas adalah tentang para pengawal dan sopir pribadi para pejabat tertinggi Iran.
Satu dari ribuan kamera itu memiliki sudut yang strategis: parkiran, tempat mobil-mobil pribadi para pejabat Iran diparkir saat mereka datang ke kompleks yang dijaga ketat tersebut.
Berkat data dari kamera-kamera itu, Mossad memanfaatkan algoritma yang rumit bisa menyusun pola rutinitas para sopir dan pengawal tersebut.
Mulai dari alamat mereka, waktu bertugas, rute yang mereka tempuh saat pergi bekerja, dan yang terpenting: siapa yang mereka kawal dan sopiri setiap hari.
“Kami mengenal Teheran seperti kami paham soal Yerusalem. Kami mengenal jalan-jalan Teheran seperti jalanan tempat kami tumbuh besar, jadi kalau ada sesuatu yang aneh kami pasti tahu,” kata seorang pejabat intelijen Israel.
Israel bisa menguasai peta Teheran dengan detail berkat kerja pengumpulan data yang rumit. Yang menjadi ujung tombak upaya ini adalah tiga komponen.
Pertama adalah Unit 8200 – sebuah unit sinyal militer dalam angkatan bersenjata Israel, agen lapangan yang direkrut Mossad dan data-data yang dikumpulkan leh intelijen militer Israel.
Untuk mengolah semua informasi itu, Israel menggunakan metode matematis yang dikenal sebagai analisis jaringan sosial.
Metode ini menganalisis miliaran poin data untuk memetakan pusat gravitasi dalam pengambilan keputusan di Iran serta mengidentifikasi target untuk dimata-matai atau dibunuh.
“Dalam budaya intelijen Israel, targeting intelligence adalah isu yang paling utama – ia dirancang agar sebuah strategi bisa dijalankan,” kata Itai Shapira, brigadir jenderal pada pasukan cadangan Israel yang 25 tahun bekerja di bidang intelijen.
“Jika para petinggi memutuskan bahwa seseorang harus dihabisi, maka di Israel budayanya adalah: kami akan menyediakan targeting intelligence,” lanjut dia.
Budaya ini terbukti efektif. Contoh yang menarik adalah saat Israel membunuh belasan ilmuwan nuklir Iran dan para petinggi militer Iran di menit-menit awal Perang 12 Hari pada Juni 2025.
Dalam operasi memburu Khamenei, Israel dan Amerika Serikat berhasi mengetahui bahwa sanga pemimpin besar itu akan melangsungkan pertemuan pada Sabtu pagi di kantornya di Jalan Pasteur.
Peluang itu tak disia-siakan karena pertemuan tersebut diketahui akan dihadiri para pemimpin senior Iran.
Hitung-hitungan Israel dan Amerika Serikat, akan lebih sukar membunuh Khamenei jika dilakukan setelah perang berlangsung.
Khamenei dipastikan akan berlindung di bunker-bunker bawah tanah yang tak bisa dijangkau rudal-rudal modern.
Tapi satu yang juga sudah diketahui intelijen Israel dan AS.
Khamenei tidak seperti Hassan Nasrallah, pemimpin kelompok Hizbullah yang jarang tampil di hadapan publik dan selalu bersembunyi.
Nasrallah tewas pada September 2024 lalu akibat terkena ledakan 80 bom Israel saat berlindung di dalam bunker di Beirut, Lebanon.
Khamenei dalam beberapa kesempatan mengatakan kepada publik bahwa ia siap gugur sebagai martir.
Menurutnya hidupnya tidak lebih penting dari keberlansungan Republik Islam Iran.
Tetapi beberapa sumber mengatakan, selama kegentingan menjelang perang, Khamenei memang lebih berhati-hati.
“Tidak biasanya ia tidak berada di dalam bunker. Ia memiliki dua bunker,” kata sumber tersebut.
Sebelum memutuskan untuk mengebom kantor Khamenei, Israel perlu benar-benar memastikan ia berada di dalamnya.
Untuk itu, militer Israel memiliki mekanisme khusus: dua perwira senior yang bekerja secara terpisah harus bisa memastikan target berada di lokasi yang akan diserang.
Dalam hal ini, intelijen Israel berhasil mendapatkan konfirmasi dari unit intelijen sinyal berupa kamera CCTV lalu-lintas dan data dari menara seluler di sekitar Jalan Pasteur.
Data-data itu menunjukkan bahwa pertemuan dengan Khamenei akan digelar tepat waktu dan para pejabat senior Iran bergerak menuju lokasi tersebut.
Konfirmai kedua datang dari informan Amerika Serikat yang berada di lapangan dan melihat langsung Khomenei di lokasi.
Sumber: Suara